Selasa, 09 Juni 2015

PANTAI SIRING KEMUNING
Sebagai negara maritim kepulauan dengan garis pantai membentang sepanjang95.181 km, sangat wajar kalau Indonesia memiliki banyak sekali pantai yang indah. Beberapa di antaranya sudah sangat terkenal hingga ke dunia internasional, sebut saja Pantai Kuta dan Pantai Sanur di Bali. Namun tidak sedikit pula yang masih tersembunyi sehingga keindahannya tidak banyak disaksikan mata manusia. Salah satunya Pantai Siring Kemuning di Bangkalan, Madura. Pantai Siring Kemuning terletak di desa Mecajah di Kecamatan Tanjung Bumi, berjarak sekitar 41 km ke arah utara Kota Bangkalan. Jika memulai perjalanan dari Kota Bangkalan, butuh waktu sekitar sejam dengan menggunakan sepeda motor untuk sampai di pantai ini. Sebaiknya gunakan kendaraan kendaraan pribadi karena belum ada angkutan umum yang mencapai daerah Pantai Siring Kemuning.
Di hari libur terutama di tahun baru, Pantai Siring Kemuning cukup ramai dikunjungi masyarakat dari luar Bangkalan. Kalau dilihat dari nomor polisi kendaraan roda dua atau roda empat yang parkir, sepertinya pengunjung di hari pertama 1 Januarai tahun baru 2012 kebanyakan berasal dari Surabaya. Kemungkinan besar mereka adalah para pengunjung Kota Bangkalan yang hendak menikmati kelezatan Bebek Sinjay Sambal Pecit yang sudah terkenal itu. Bisa juga mereka merupakan penggila Batik yang hendak berburu Batik Tanjung Bumi yang berlokasi tidak jauh dari Pantai Siring Kemuning.
pantai siring kemuning
Memasuki Pantai Siring Kemuning tidak dikenai biaya karcis tapi pengunjung harus membayar uang parkir dengan tarif Rp. 7000 untuk sepeda motor dan kemungkinan lebih untuk parkir mobil. Suasana di Pantai Siring Kemuning terlihat masih sangat alami, hampir tidak ada sentuhan polesan tangan manusia yang terasa. Sepertinya pesona tersembunyi Pantai Siring Kemuning masih luput dari perhatian pemerintah setempat. Hampir tidak ada fasilitas umum yang tersedia di pantai ini, bahkan kamar mandi dan toilet pun harus menumpang di rumah penduduk sekitar pantai. Di dekat gerbang masuk sebenarnya ada bangunan yang kemungkinan dibangun dengan peruntukan kamar mandi dan toilet, sayang sekali bangunan itu belum selesai sehingga tidak dapat digunakan.
pasir putih siring kemuning
Suasana di tepi Pantai Siring Kemuning cukup asri dan sejuk, di lokasi dekat pintu masuk terdapat pohon-pohon yang cukup rindang, cocok sekali digunakan untuk lesehan sekedar melepas penat selama perjalanan menuju pantai. Tapi jangan lupa dengan syaratnya, tikar atau alas untuk lesehan harus dibawa sendiri karena belum ada yang menyewakannya. Di tahun baru kemarin, pasir putih Siring Kemuning dihiasi oleh ombak sedang dan air yang cukup keruh. Kemungkinan karena malam sebelumnya hingga pagi, Bangkalan dan sekitarnya diguyur hujan cukup deras. Selain pasir putih, pantai Siring Kemuning di beberapa tempat juga dihiasi batu karang. Kalau membawa anak kecil, sebaiknya berhati-hati untuk melepaskan mereka di zona berbatu karang.
batu karang siring kemuning
Bagi pengunjung yang hendak bermain air dan ombak di pantai pasir putih Siring Kemuning juga diharapkan untuk berhati-hati karena menurut penduduk setempat ombak di pantai ini bertipe menyeret bukan mendorong. Ombaknya memang tidak terlalu besar tapi tidak ada salahnya juga untuk selalu berhati-hati terutama anak-anak dan pengunjung yang tidak mahir berenang.pengunjung siring kemuning
Ketiadaan rumah makan bisa jadi salah satu kekurangan lain pantai ini. Setelah lelah bermain dengan air dan ombak di atas pasir tentu saja pengunjung ingin mengisi perut yang kelaparan. Sayang sekali tidak banyak pilihan di Pantai Siring Kemuning, hanya ada dua warung penjaja rujak lontong khas Bangkalan. Jadi ada baiknya juga menyiapkan bekal jika hendak menghabiskan waktu hingga makan siang di pantai ini. Apalagi jarak yang harus ditempuh untuk sampai di Kota Bangkalan lumayan jauh.
pedagang di pantai siring kemuning
Di balik kelebihan dan kekurangannya, Pantai Siring Kemuning adalah obyek wisata di Kota Bangkalan yang patut dikunjungi. Semoga saja pemerintah setempat dapat memberikan sedikit perhatian untuk aset-aset wisata seperti ini supaya pesona-pesona tersembunyi keindahan negeri ini dapat dinikmati khalayak ramai.
MAKANAN KHAS MADURA

1. Topak Ladhe Bangkalan

5 Makanan Khas Bangkalan Yang Terkenal
Makanan ini biasanya disajikan saat hari besar seperti hari raya ketupat, makanan ini kuahnya dari bumbu kelapa parut dan rempah-rempah yang digiling dan lauknya dari daging sapi dengan potongan telor ayam. disajikan dengan ketupat, ditambah sayur markisa atau kacang panjang yang drebus. dengan sedikit bawang goreng dan cabai.

2. Tajin sobih Bangkalan

5 Makanan Khas Bangkalan Yang Terkenal
Tajin sobih ini merupakan jajanan khas mirip dengan bubur, tapi spesial banget. kita bisa menikmani beraneka ragam jenis bubur, ada yang merah-merah, ada yang coklat-coklat, dan ada yang putih-putih. jajanan ini dinamakan Tajin Sobih karena yang jualan kebanyakan berasal dari Desa Sobih, di dekat Bangkalan.

3. Nasi Serpang Bangkalan

5 Makanan Khas Bangkalan Yang Terkenal
Nasi serpang di masak dengan bumbu rempah-rempah khas madura. Nasi Serpang ini adalah masakan paduan dari bahan paduan bahan dari daratan juga lautan. Dari ikan laut sampai dengan daging hewan daratan. racikan smuan itu di antranya Nasi, Pepes ikan tongkol, Kerang dimasak sambal goreng, Soun bumbu kecap, Telor asin masir, Sambal terasi, Krupuk rambak bumbu rujak, Dendeng daging sapi Madura, Kripik paru dan Rempeyek ikan teri dan kacang,

4. Sate Madura

5 Makanan Khas Bangkalan Yang Terkenal
Sate ini biasanya terbuat dari ayam atau kambing. Bumbunya adalah campuran kacang yang ditumbuk halus petis dan sedikit bawang merah. Sate Bumbu sendiri, sepintas tidak jauh berbeda dengan sate-sate lain yang biasanya ada di daerah lain. Namun setiap daerah pasti punya khasnya masing-masing, Sate ayam dan yang lain langsung dipanggang atau hanya dibumbuin kecap untuk sate bumbu, sebelum dibakar daging sapi yang sudah ditusuk, dilumuri atau diolesi oleh bumbu yang terbuat dari rempah dan palawija khusus.

5. Kaldu Kokot

5 Makanan Khas Bangkalan Yang Terkenal
Makanan khas ini merupakan makanan sejenis sop dengan bahan utama kacang hijau yang di masak dengan direbus di tambahkan berbagai macam bumbu rempah-rempah khas jawa seperti bawang merah, bawang putih, jahe, pala, dan daun bawang. Makanan ini kuahnya agak kental dengan tambahan potongan kikil kaki sapi, yang suka tulang juga ada yang menyajikannya dengan tulang kaki sapi, kemudian ditambah dengan bumbu dari ulegan kacang dan petis.
CUP CAKE
“Tiittt… tiiittt… tiiittt….” Suara jam weker membangunkanku.
Ku raih dan ku matikan, ku lihat sebuah Cup cake dengan krim strawberry favoritku terletak tepat di sebelahnya. Sepucuk surat bersandar di bungkusnya. Ku buka dan ku baca.
Good morning Princess Cup cake
Aku tersenyum melihatnya dan aku tau siapa pengirimnya.
“Ma… Tadi Denis kemari yah?” Teriakku.
“Ya tadi pagi-pagi sekali dia datang dan menitipkan Cup cake favorit mu.” Jawab suara dari luar ruangan kamarku.
Siang ini aku berjanji akan jalan dengannya, ini hari jadi kami yang ke 2 tahun 4 bulan tepatnya. Ku angkat tubuh pemalas ini dan ku bawa untuk membersihkan diri.
Setelah selesai, masih dengan menggunakan handuk dan rambut panjangku yang masih basah. Ku ambil dan ku nikmati Cup cake pertamaku hari ini.
“hemmm enak sekali…!!” ucapku girang.
Jam menunjukkan pukul 11.. Suara klakson sepeda motor terdengar dari depan gerbang rumahku.
“Ma… aku pergi dulu yah…” teriakku.
“Hati-hati…” jawabnya parau.
Denis mengajakku berjalan-jalan ke beberapa tempat, namun seperti biasa tanpa perlu ku katakan dia membawaku ke sebuah toko kue berlambangkan Cup cake. Tempat yang paling ku suka.
“Den, aku mau yang ini..” pinta ku menunjuk ke sebuah cup cake rasa coklat krim strawberry.
Lelaki itu tersenyum melihatku, dia begitu senang memandangiku setiap kali aku bersamanya ke toko kue langgananku ini. Sejak aku kecil ayahku sering sekali mengajakku ke tempat ini, selain kuenya yang begitu enak tempat ini memiliki suasana yang begitu nyaman dan indah dipandang. Tempat yang klasik namun begitu elegan.
Namun yang membuatku suka tempat ini adalah cup cakenya yang terkenal begitu manis dan menggoda. Terbukti tentunya, begitu banyak pelanggan yang datang kemari hanya demi mencicipi cup cake yang begitu terkenal di daerah ini.
Dengan senyuman yang menawan, lelaki itu mengambil kue pesananku dan menyuruh ku menunggu sebentar. Dia selalu setia menemaniku ke tempat ini, seminggu mungkin bisa berkali-kali.
Denis, dia kekasihku. Tak ku sangka sudah 2 tahun 4 bulan sejak kami pertama kali bergandengan tangan. Masih ingat aku hari dimana dia mengungkapkan cintanya padaku, dengan 8 buah cup cake yang bertuliskan I LOVE YOU.
Sungguh romantis dan begitu manis, andai bisa ku simpan semua cup cake itu pasti sudah menjadi pajangan utama di kamarku.
Handphone ku berbunyi, ada yang menelpon ku. Ku rogoh tas gandeng ku dan ku ambil segera berharap ada yang penting sehingga mengganggu waktu ku bersama kekasihku.
Aku terpaku saat ku menatap nama yang tertera disana. “Arifah” nama itu yang muncul di layar handphone ku, tragedi itu mulai nampak kembali, kupikir setelah sekian lama kami tak pernah bertemu, semuanya akan berlalu dengan mudah. Namun sepertinya akan kembali sulit bagiku melupakan persahabatan kami di masa lalu. Aku masih saja terdiam hingga handphoneku berbunyi untuk kedua kalinya. Saat itu pikiranku melayang jauh, menyusuri waktu itu.
Hari itu, hujan rintik-rintik membasahi segalanya di sekitarku, aku berlari untuk menemui Denis dan Arifah yang telah lama menunggu ku di toko kue langgananku ini, karena takut mereka terlalu lama menunggu. Ku susuri jalan menuju tampat itu. Tapi, kakiku terlalu berat melangkah lagi hingga tak pernah sekalipun aku sampai kesana.
Aku melihatnya. Ku lihat segalanya terlalu indah untuk mengganggu kebersamaan di antara mereka. Sejak saat itu ku sadari semua, tatapan yang tak pernah bisa aku temukan saat aku menatap Arifah sebelumnya.
Saat itu aku dan Denis hanya teman biasa, begitu juga dengan Arifah. Namun aku tak tau bahwa Arifah memiliki rasa yang sama dengan ku. Sejak awal aku sudah menduga, pertemanan dua orang perempuan dan seorang lelaki akan membuahkan cinta segitiga. Dimana, bila dua hati bersatu, akan ada satu hati yang terluka.
Sejak dia tau Denis lebih memilihku, Arifah tak mau lagi menemuiku, dia mengatakan aku ini sahabat yang keterlaluan. Teman makan teman, begitu lebih tepatnya. Aku pun terjebak dalam dilema yang biasanya ku baca dalam cerita-cerita. Tak ku sangka aku benar-benar akan mengalaminya.
Arifah atau Denis? Cinta atau sahabat? Karma atau luka? Pilihan-pilihan itu menghantui fikiran ku. Namun Denis lebih dahulu mengutarakan isi hatinya padaku dan saat itu ku pilih pilihan ku. Sejak hari itu, berakhirlah persahabatan kami.
Aku tersentak, setelah ketiga kalinya handphone ku berbunyi dan masih menampilkan nama yang sama. Segera ku reject telponnya dengan wajah yang menunjukkan kebingungan.
“ada apa dia menelpon ku?” tanyaku dalam hati.
Tak ku sangka lebih 2 tahun dia masih menyimpan nomorku. Padahal kami tak pernah berhubungan sejak dilema itu.
“Siti, ayo pergi..” ajak Denis.
“Siti…” panggilnya sekali lagi.
“Eh…eee… iya ayo..” jawabku yang baru tersadar dari lamunanku.
Segera aku menggandeng dan memeluk lengan pangeranku, dia tersenyum melihat tingkah manjaku dan kami pun berjalan keluar menuju pintu.
Sebelum pulang ke rumah, dari tempat ini biasanya kami akan pergi ke taman bunga dimana tempat Denis menembakku. Dia suka mengenang saat-saat itu, saat paling bahagia dalam hidupku.
Di dekat air mancur, Denis mengajakku duduk di kursi panjang berwarna putih. Dia membuka bungkusan coklat dan mengambil sebuah cup cake berwarna pink dari dalamnya. Dengan sangat romantisnya perlahan ia menyuapiku, aku pun tak sungkan langsung melahap dan menikmati makanan favoritku itu dengan sedikit perilaku manja.
Terkenang masa-masa indah bersamanya, setiap suapan mengandung jutaan makna yang diutarakan dalam satu kata “Cinta”. Dengan lembut dan romantisnya ia membersihkan krim cake yang belepotan di bibir ku.
Seketika itu dia menatapku, matanya berkaca. Bibirnya merekahkan sebuah senyuman tulus yang membuatku bahagia.
“Siti aku mencintaimu..” ujarnya
Hatiku terasa lebih manis dari ratusan cup cake yang pernah ku cicipi. Wanita mana yang tidak melayang hatinya diperlakukan seromantis ini? Sungguh tiap gadis ingin lelaki seperti dirinya.
Aku masih terdiam memandanginya yang membersihkan krim di bibirku, sungguh dalam tatapannya. Seakan dia memaksa ku masuk dan merasakan cinta yang ia miliki.
“Aku ingin, setiap hari bisa menyuapimu sebuah cup cake yang kau sukai..” ujarnya lagi.
Tanpa sadar mata ku terasa sempit untuk menatapnya, air mata menghalangi pandangan ku. Haru dan bahagia bersatu di dada, sungguh beruntung aku mendapatkan kekasih sepertinya. Setelah, membersihkan krim di bibirku kini ia menepiskan butiran yang mengalir di pipiku.
“Den, aku ingin kamu selalu ada… mengusap setiap air mata ini..” sahut ku.
“Pasti… Aku pasti melakukan itu..” jawabnya dengan senyuman.
Dia memelukku erat, air mata ku kini membasahi kemejanya yang rapi. Beberapa kali ia menciumi rambut ku, seolah mengatakan “aku sayang padamu”.
Suasana bahagia itu terusik oleh sebuah bunyi handphone dari tas ku. Seketika Denis melepaskan pelukannya dan memintaku menjawab telpon itu. Ku raih tas ku dan ku ambil benda pengganggu itu.
“Arifah” lagi-lagi dia, kenapa dia mengangguku di saat-saat indah seperti ini, selama dua tahun dia tak menghubungiku sekarang dia mengganggu kemesraanku dengan kekasih ku. Lagi-lagi ku reject telpon itu namun kali ini dengan wajah yang cukup kesal.
Denis hanya diam, dengan dua tangannya yang saling menggenggam. Menatap bungkus Cup cake yang tadi dia belikan untukku.
“Dari siapa?” tanyanya tiba-tiba.
“bu.. bukan dari siapa-siapa..” jawabku.
“kalau penting angkat aja dong.” Ujarnya dengan senyum mempesona.
“iya, tapi memang gak penting kok.”
Langit mulai mendung, gemuruh mulai terdengar, angin pun tak mau kalah menunjukkan aksinya. Denis segera menggandeng tanganku dan menarikku pergi, aku sedikit berlari mengejarnya. Mata ku tertuju pada genggaman tangannya yang begitu dingin, seakan aku tak ingin melepasnya untuk selamanya.
Di sepeda motornya ku peluk erat tubuhnya dan ku hirup jelas aroma tubuhnya. Membuatku nyaman dan tenggelam di dalam kenikmatan. Angin mengibarkan rambutku, rintik-rintik hujan mulai jatuh.
Akhirnya kami sampai di depan rumahku, Denis membuka kaca helmnya dan tersenyum manis padaku. Segera aku turun dan berdiri di sampingnya.
Denis memintaku mendekatkan wajahku ke helmnya. Lalu tiba-tiba dia menyentuh keningku dengan kecupan lembut dari bibirnya. Seketika pipiku memerah dan senyumku merekah, wajahku tersipu malu. Dia menatapku, tertawa kecil, lalu….
“Dah, Sampai jumpa… princess cup cake” katanya.
“Daahh…” teriakku girang melambaikan tangan.
Sungguh aku ingin menghabiskan waktu ku lebih lama dengannya, tapi masih ada hari esok.. fikirku. Hari ini entah mengapa terasa begitu istimewa dari pada hari-hari sebelumnya. Kebahagiaan yang tiada tara membuatku tak bisa berhenti tersenyum puas.
Perlahan sosoknya mulai menghilang dari pandanganku, hujan mulai deras dan aku mulai berbalik memalingkan diri dari arah Denis pergi. Ku bawa kaki ku melangkah menuju pintu… tiba-tiba…
“Arifah!!!” ucapku.
Aku masih terheran-heran kenapa dia menelponku berulang kali, padahal selama ini kami tak pernah lagi berkomunikasi. Berdiri di depan pintu, ku cari handphone ku di dalam tas ungu kesayanganku.
Ketemu, 7 panggilan tak terjawab dengan sebuah pesan sudah muncul di layar handphone ku. 6 panggilan dari Arifah dan 1 panggilan dari Ayu adiknya Denis. Ku buka pesan teks itu yang juga dari Arifah.
From: Arifah
Number: 081387******
Kamu dimana? Berulang kali aku hubungi kenapa kamu tak menjawabnya? Bahkan kamu merejectnya. Hari ini jangan pedulikan masalah kita yang telah lalu. Semua sudah berakhir. Tak ada lagi yang harus kita bicarakan.
Kamu dimana? Kenapa kamu gak datang ke rumah sakit? Apa kamu gak tau. Pagi tadi ketika ia pulang dari rumahmu, ia mengalami kecelakaan. Sebuah mobil box menabraknya, kepalanya mengalami pendarahan hebat! dokter bilang dia tak dapat diselamatkan! dimana kamu saat dia membutuhkanmu?
Dia telah meninggal! meninggal!!! dimana kau saat ia membutuhkanmu?
Aku terdiam, air mata ku membanjiri wajahku… kaku, tubuh ini terasa kaku. Serasa ribuan jarum menusuk tubuhku. Bahkan tanganku tak mampu menggenggam Handphone ku lagi.
“BOHONG!!!” teriakku.
“Pasti semua itu bohong, Denis bersama ku hari ini..” teriakku seraya meneteskan air mata.
“Tadi ia menggandeng tanganku, tadi ia mengusap air mataku, tadi ia membersihkan bibirku. Gak mungkin!!! gak mungkin…”
Aku mulai depresi dan berbicara sendiri, gak mungkin Denis pergi!! dia bersama ku hari ini. Tak pernah ku fikirkan semua kebahagiaan yang ku rasakan hari ini adalah ucapan perpisahanku dengannya.
Aku berlari menerjang derasnya hujan, air mataku kini tak tampak ia menyatu bersama tangisan langit kelabu. Berlari seakan tak punya tujuan, berharap bisa melihat wajahnya untuk yang terakhir kalinya.
“Denis, kamu sudah berjanji… untuk selalu menghapuskan air mata di pipiku..”
Kini, Denis tak ada di sampingku untuk menepis air mataku. Hanyalah hujan yang terus menerpa wajah ini dan menutupi luka yang menganga karena kepergiannya.
“Tiittt… tiiittt… tiiittt….” Suara jam weker membangunkanku.
Tersentak aku, dari mimpi gilaku yang membuat jantungku berdegup begitu cepatnya…!!
“Mimpi… tadi itu cuma mimpi..” ucapku.
Nafasku masih tak teratur dan aku mulai takut, “Cup cake!!” sentakku. Ku palingkan wajahku menuju jam weker ku.
Deg.. deg.. deg… deg… Jantungku semakin kacau berdetak. Ada disana.. Cup cake dengan krim strawberry besertakan secarih kertas di sampingnya.
Ku buka dengan rasa penuh ketakutan
Good morning Princess Cup cake
Secepat angin, segera ku bangkit dari kasurku dan melesat menuju pintu depan rumah ku. Tanpa pamit segera aku pergi berlari menggunakan piama ungu berhiaskan puluhan gambar Cup cake kecil dengan buah berry di atasnya.
Kaki ku tak lagi merasa sakit, walau tak mengenakan alas kaki seraya berlari. Fikiranku melayang, air mataku berlinang. “Denis…” ucapku pelan berulang kali.
Isak tangis mengiringiku berlari, berlari menuju rumah Denis yang hanya berjarak 3 block dari rumahku, orang-orang yang melihatku pasti terheran-heran. Melihat seorang gadis menggunakan piama, tak beralas kaki dan menangis berlari terburu-buru mengejar ketakutan terbesarnya.
Tiba ku di depan rumah Denis dan segera ku membunyikan Bell, Sosok lelaki gagah keluar dan terheran-heran melihat ku yang berantakan seperti ini. Segera ku terjang tubuh tegapnya, ku peluk, ku dekap dan air mataku membasahi kaos putihnya.
“Kamu kenapa?” tanyanya heran dan membalas pelukanku.
“Kamu gak boleh pergi… kamu gak boleh pergi..” jawabku dipenuhi isak tangis.
“Siti… aku akan selalu ada… selalu ada untuk mengusap setiap air mata ini..” katanya seraya mencium rambut ku yang masih lusuh.
Seketika aku teringat kata-kata itu, kata-kata yang juga dia ucapkan di dalam mimpiku. Namun kali ini aku tak akan membiarkannya sama, tak akan ku biarkan dia pergi meninggalkanku. Aku ingin selalu dia ada untuk mengusap air mataku.
SELAMAT TINGGAL JANUARI
“Lo tahun baru mau kemana, Vir?” Tanya Rena padaku.
“Entahlah. Mungkin Papaku ngajakin ke tempat bersalju untuk menghabiskan bulan pertama di tahun baru disana.” Jawabku singkat.
Sesungguhnya aku malas mengikuti papaku untuk ke Eropa. Menghabiskan malam tahun baru di tempat dingin yang suhunya hanya beberapa derajat bahkan minus itu membosankan bagiku. Bagi gadis usia 18 tahun yang cinta fashion ini. Apalagi harus memakai baju tebal dan penutup kepala agar telingaku terlindung dari dingin ketika keluar rumah. Tapi kalau tidak ikut ke Eropa, aku akan kehilangan kesempatan belanja di sana.
“Papa udah pulang ya, Ma?” tanyaku pada mama saat aku sampai di rumah.
“Sudah. Tuh Papa nungguin kamu. Katanya mau bilang sesuatu padamu.” Kata Mama sambil tersenyum manis.
Aku hanya nyengir lihat senyum Mama. Kemudian aku berlalu dan menemui Papa. Saat melihatku Papa pun tersenyum padaku. Aku sungguh bingung dengan semua ini. Ada apa ini?
“Siapkan barangmu. Besok kita akan berangkat.” Kata Papa.
“Papa, aku di rumah saja ya. Aku ingin merayakan tahun baru bersama teman-teman kampus” kataku memelas.
“Sayang sekali. Padahal tiket pesawat ke Korea sudah Papa beli.”
“Tunggu! Ke Korea? Aku ikut Pa. aku siap-siap dulu.” Kataku sambil berlari menuju kamar.
Aku bersama kedua orangtuaku sudah tiba di salah satu bandara di Korea. Namun terburu-buru aku pergi ke toilet. Aku merasa ada yang tidak beres dengan perutku. Aku segera masuk toilet untuk menyelesaikan urusan perut.
Setelah beres, aku berlari keluar bandara untuk menemui orangtuaku yang sedang menungguku di luar bandara. Namun di tengah perjalanan aku menabrak seorang pemuda Korea yang tampan menurutku. Wajahnya mirip Lee Min Ho.
“I’m sorry. I don’t mean” kataku.
“No problem. Are you Indonesian people?” tanyanya padaku sambil memperhatikan wajahku. Aku canggung dipandangi orang seperti itu.
“Yes.” Jawabku singkat.
“Aku juga dari Indonesia. Mamaku orang Indonesia. Tapi aku tinggal di Korea bersama Papa dan Mamaku. Namaku January. Siapa namamu?” katanya sambil mengulurkan tangan dan tersenyum.
“Nama yang unik. Namaku Vira.” Kataku sambil menerima jabatan tangannya. Tubuhku serasa bergetar ketika tangan kami bersentuhan.
“Aku lahir di bulan Januari. Papaku yang memberi nama itu.” Katanya.
Setelah pertemuan itu, kami sering bertemu. Kami juga merayakan malam tahun baru bersama di sebuah tempat yang terkenal di Korea. Sejak malam itu aku merasa ada yang aneh padaku. Aku merasa bahagia. Belum pernah aku sebahagia ini.
Aku dan January semakin dekat. Aku merasa bahwa dia juga mencintaiku. Dia begitu perhatian dan baik terhadapku. Hampir setiap hari kita bertemu. Semakin hari rasanya aku semakin menyukai January.
Malam itu January mengajakku kencan. Aku berdandan agar terlihat cantik malam itu di hadapan January. Aku ingin menjadi wanita paling cantik dalam restoran itu. January menggandengku masuk ke dalam restoran itu. Kemudian dia menyediakan aku kursi untuk aku duduki. Aku serasa menjadi princess malam itu.
“Em… Vira, aku mencintaimu. Apakah kamu juga mencintaiku?” kata January tanpa berbasa-basi.
“January, aku juga mencintaimu. Aku mencintaimu saat aku menabrakmu di bandara dulu. Sejak saat itu aku merasa ada yang berbeda dariku. Aku merasakan ada getaran yang amat kencang saat aku bersamamu. Terlebih saat kamu menatap mataku.”
Kemudian January mencium punggung tanganku. Mungkin aku adalah perempuan yang paling bahagia di dunia malam itu. Namun, aku bingung. January sudah mengutarakan perasaannya padaku. Tapi dia tidak memintaku untuk menjadi kekasihnya.
Hari itu adalah hari akhir di bulan Januari. Dan hari terakhirku di Korea. Sejak kejadian malam itu, January tidak pernah mendatangiku. Aku juga tidak pernah melihat sosoknya saat aku berjalan-jalan atau berbelanja. Aku ingin sekali berpamitan dengannya. Tapi aku tidak pernah lagi melihatnya.
Saat dalam pesawat, aku berpikir bahwa January adalah kado tahun baru dari Tuhan untukku. Yah, hanya kado tahun baru. Hanya kado untuk bulan Januari. Bukan bulan-bulan lainnya. Dia datang di bulan Januari dan dia pergi setelah bulan Januari habis. Pantaslah jika namanya January.
Aku mencintai January. Namun aku tidak sedih saat aku harus berpisah dengannya. Aku tidak tahu kenapa semua bisa terjadi. Tapi aku masih mencintainya dengan kesungguhan hati. Selamat tinggal January dan Januari.
MENUDUH HUJAN
Malam ini hujan mengguyur seluruh tubuhku, Tahukah kau aku mengigil kedinginan di sini, sambil menunggu sebuah kata yang masih kau tahan dalam mulutmu, walau sebenarnya aku tahu apa yang kau ingin katakan, aku lihat itu dari matamu, aku pun tau kau tak sanggup mengatakannya.
Kau ingin tinggalkan semua cerita cinta yang dulu sempat kita rangkai bersama. Aku hanya bisa menitikkan Kristal- Kristal bening yang menyatu dengan rintik hujan ini, rasanya mataku pun sudah pedih.
Dia belai rambutku namun ia tetap membisu, di rengkuhnya tubuhku masuk dalam dekapannya, terdengar jelas degup jantungnya di telingku, akhirnya dia berbisik lirih tapi sangat jelas di telingaku.
“Santy maafkan aku, kini akhiri saja semuanya di sini”
Aku pun tak banyak kata, aku hanya diam terpaku dan hingga akhirnya ia tinggalkan aku disini bersama hujan.
Sampai Dimas menghilang dari pandanganku, aku masih tetap diam terpaku tak bergerak, hingga akhirnya aku melihat ada cahaya lampu mobil menghampiriku dan dia berhenti tepat di depan ku, pintu mobil pun terbuka dan turunlah sesosok pria keluar dari mobil itu. Wajahnya tersamar dari pandanganku karena mata dan wajahku basah oleh air mata bercampur air hujan, pria itu lalu mendekatiku, tapi tampaknya aku kenal dengannya.
“hai Santy ngapain kamu di sini, sendiri lagi. mana hujan, becek, gak ada ojek lagi” pria itu menjoba bercanda.
Aku tetap diam dan bertanya dalam hati siapakah sosok pria yang menghampiriku ini.
“hemmm, siapa ya…?” aku mengerutkan dahi
“duh, Santy ini aku Kalam, hemmm teman SMA mu dulu”
“oh, maaf aku lupa, hujan membuatku rabun tampaknya” jawabku datar
“bukan hujan, tapi tangismu, matamu merah, kau habis nangis ya?”
“hemmm gak, hujan yang membuat mataku merah”
“bukan hujan tapi pria tadi yang buatmu nangis, aku melihatnya dari tadi San”
Aku pun diam sudah tak bisa menyangkal
“sudah kau sudah banyak menyalahkan hujan, ayo masuk dalam mobil, biar ku antar pulang” ucapnya lagi.
“baiklah, maafkan aku hujan, aku sudah menfitnahmu” kataku bersungguh-sungguh pada hujan
“kau masih gila seperti dulu, berbicara pada hujan” senyumnya sambil mengendarai mobilnya
“oh… ya, tapi aku tak seperti dulu lagi, Yang mudah dapatkan arti kesetiaan.”
“hahaha kamu ini” kalam tertawa lepas
Kami pun bercerita kesana-kemari mengingat masa lalu cerita masa SMP, sungguh aku rindu dengan masa itu.
Tak terasa kami telah sampai, sebenarnya aku ingin banyak mengobrol dengannya namun ini sudah malam. Jadi kami janjian besok sore jam 5 dia akan menjemputku.
Jujur sebenarnya dulu Kalam adalah gebetan aku, yang mungkin ku fikir mustahil untuk ku dapatkan, dan kini tak sangka dia datang pada waktu yang tepat, semoga dia akan menjadi pengganti Dimas, sekelumit doa terselip di relung hatiku.
Waktu yang ku tunggu-tunggu pun telah tiba, Kalam membunyikan klakson mobilnya, dengan cepat aku membuka pintu dan menghampirinya.
“hai Kalam” aku mengetuk pintu jendela mobil dan dia pun mebuka kaca jendela.
“hai San, ayo masuk” ramahnya, membuat jantungku makin berdetak.
Kami pun pergi tinggalkan rumah, Kalam membawaku pada sebuah tempat yang menurut ku menakjubkan ini sungguh indah, aku melihat matahari terbenam sempurna dan disini bersama Kalam, sungguh memang sempurna menurutku.
Tiba-tiba dia menyentuh tanganku membuat jantungku makin berdebar aku sangat bahagia sore itu, seperti aku terbang ke langit jingga ini.
“San kamu tau gak”
“apa?” entah mengapa jantungku semakin berdebar semua kurasa seperti mimpi. Namun tiba-tiba hujan turun dengan tiba-tiba sepertinya dia tak suka dengan apa yang kami lakukan ini. Kami pun bergegas memasuki mobil dan pulang.
Kalam mengantarku pulang lagi. Dan sampailah di depan gerbang rumah.
“Kalam Masuk yu!”
“oh… gak makasih, ya udah aku pulang dulu ya”
“hah ehmmm oh iya daaa” aku melambaikan tangan hingga mobil pun tak tampak dalam pandangan. Aku merasa kecewa gara-gara hujan membatalkan acara kami.
“uh dasar kau hujan, tadi hujan besar sekarang reda apa kamu gak bisa lihat aku bahagia” marah ku pada hujan. Dan malah dibalas dengan suara petir yang keras, hingga buatku takut dan bergegas lari ke dalam.
Setelah kejadian itu kami sudah tak bertemu lagi. Aku punya nomor teleponnya, ingin sekali aku telepon, namun sungguh gengsi rasanya bila cewek duluan yang telapon. Dari tadi aku hanya mondar-mandir, pikiranku dihantui oleh dua hal yang akan aku lakukan. Aku telepon Kalam atau menunggu sampai dia telephon. Tiba-tiba HPku berdering tanda ada SMS masuk, ku lihat di layarnya tertulis kalam, ada pesan dari kalam, aku tak sabar untuk membukanya,
“San ni aku kallam Keluar yu”.
Dan aku pun mengiyakan, katanya juga setengah jam lagi dia telah sampai ke rumahku, namun tampaknya hujan kan turun lagi mengganggu kebahagiaan ku bersama kalam, namun kalam tetap saja memaksa keluar.
“ayolah San kita pergi!” bujuknya padaku manis.
“kayaknya mau hujan Lam” keluhku
“memang kenapa kalau hujan?” ia bertanya lagi.
“duh hujan itu selalu ganggu aku kalau aku mau senang-senang”
“apa, jadi kamu seneng jalan sama aku” ia menggoda ku hingga muka ku merah seperti kepiting rebus.
“gak maksudku, kita kan mau pergi…” aku mencoba mengelak, aku jadi salah tingkah.
Kalam mengerlingkan matanya menunggu jawabanku.
“ah tau ah ribet” jawabku sekenanya.
“ya udah yuk kita berangkat, kan kita pakai mobil, jadi kenapa takut” ia membujukku dengan lembut.
Aku jadi teringat masa SMA dulu, kalam yang ku kenal dulu adalah kalam yang angkuh dan sombong, tapi sekarang amat berbeda.
“hai… ayo,” kalam menarik lenganku.
Aku sudah tak bisa berbicara apa-apa, aku hanya bisa menuruti bujukannya.
Aku dibawanya pada tempat yang kemarin di sebuah taman.
“sekarang gak bisa lihat matahari terbenam ya…” ucap Kalam manis.
“iya… berkat hujan, uh makasih hujan” kesalku pada hujan lagi.
“mengapa kau benci hujan, baiklah aku akan buat kau suka hujan”
Aku menatapnya bingung, entah telingaku yang salah atau memang otakku yang lemot sulit mencerna apa yang ia maksud.
“ayo kita tunggu hujan” lanjutnya yang membuatku semakin binggung.
Tak berapa lama hujan turun membasahiku dan kalam, tak fikir panjang aku berniat berlari memasuki mobil, tapi Kalam malah meraih tanganku dan menarik tubuhku ke dalam pelukannya.
“santy aku mau ngomong tulus dari lubuk hatiku, aku sayang kamu dan biarkanlah Hujan yang kau benci ini menjadi saksinya… dan kamu mau gak aku kini yang mengisi hatiku” ucap Kalam dengan tatapan matanya yang lembut, jujur saja aku yang selalu suka sorot mata indah itu.
Entah mengapa hatiku ingin berterimakasih pada hujan, aku tak menjawab dengan lisan, aku hanya mampu anggukkan kepala, kemudian semuanya hening, hanya suara air hujan yang menetes di atas dedaunan, Tak lama kemudian hujan berhenti dan tampak warna-warna indah di langit.
“itu pelangi” telunjuk Kalam mengacung pada sebuah Garis melengkung berwarna.
“oh yaaa, entah mengapa aku jadi suka hujan” pandanganku masih tertuju pada pelangi.
“ya berhasil dong aku” ia menatapku tanjam namun mataku tetap tertuju pada pelangi.
“itu berkat kau, yang menghapus lukaku di masa lalu, dan berkat Hujan pelangi mewarnai langit bukan” aku manatap Wajahnya, terlukis sebuah senyuman yang mampu berulang kali membuat ku Hanyut.
“jadi kau tak akan benci hujan lagi kan” kami tetap saling bertatapan
Aku pun menggeleng pelan, lalu ku genggam erat tangan Kalam.
“kamu tau gak Lam” ucapku sambil terus menatap sosok tampan ini.
Ia mengerlingkan matanya sambil mengerutkan dahinya, hingga seperti ukiran.
“aku kedinginan tau…”
“ohhh dasar” ia mencubit pipiku kecil.
“sakit tau” ku balas mencubit perutnya.
Ia berlari menjauh sambil tergelak.
“mau kemana Lam”
“beli minuman hangat, tunggu sebentar yaaa Say”
Suasana pun menjadi hening, ku tatap lagi pelangi di depanku yang membentuk lengkungan, sekarang aku menyukai hujan, karena tak selamanya hujan memberi kegelapan dan dibalik hujan akan memberi warna dalam kehidupan.
Terimakasih Hujan…!!!
SENYUM DIBALIK HUJAN
Tanggal dua puluh satu Januari pukul setengah tujuh malam. Anna sudah selesai berpakaian rapi. Setelah berpamitan pada ibunya, Anna meluncur menuju rumah makan herbal, tempat favorit Anna dan kawan-kawannya berkumpul, yang terletak di pinggir alun-alun kota. Semilir angin malam mengerakkan ujung jilbabnya. Anna menebar pandang. Gerobak para pedagang berjejer rapi di tepi jalan. penjual nasi goreng, mie ayam, nasi rawut dan lainnya. Beberapa orang bergerombol di depan gerobak nasi goreng. Antrean yang panjang membuat lebar jalan menjadi sempit. Pengendara motor yang ada di depan Anna berkali-kali menekan bel, meminta pembeli itu memberi jalan.
“Ada-ada saja.” Anna tersenyum sambil menggelengkan kepala. Anna sudah memarkirkan motornya di depan rumah makan. Tulisan RESTO HERBAL terpapang jelas di depan pintu masuk. Anna melangkah masuk dengan mantab.
“Halo, Erna. aku udah sampai. Kamu cepetan kesini. Eh, Lidya gimana?” Anna menelfon Erna yang ternyata belum sampai.
“Iya iya. Ni udah di parkiran. Lidya? ada ada tenang aja. Aku mau masuk. daaa”
Dua menit kemudian Erna dan Lidya sudah bergabung bersama Anna.
“Ada apa si An? Tumben ngajak kita makan makan di luar. Dapet tambahan dari bos kamu ya.” Erna memulai percakapan, penasaran. Lidya hanya menyengir. Ia mengeluarkan laptop dari ransel miliknya. “Aku sambil ngerjain tugas ya? gak papa kan?” Lidya memandang bergantian, Anna dan Erna, meminta persetujuan. Yang dipandang mengangguk pasrah. Dalam hitungan detik Lidya sudah sibuk dengan laptop dan tugasnya. Anna mendesah kecewa. Bukan ini yang Anna inginkan. Anna ingin kumpul bersama dua kawan baiknya. Bercanda, tertawa seperti yang dulu pernah mereka lakukan bersama. Pesanan belum datang. Waktu berlalu dengan rasa canggung. Erna sibuk bersms ria dengan seseorang di seberang. Anna lebih banyak diam. Anna memberanikan diri bertanya pada Lidya.
“Masih sibuk kuliah, Lid? bukankah tahun ini kamu lulus?”
“Bukan urusan kampus kok An. Urusan di luar kampus. Tahun ini aku lulus itu pun kalau skripsiku bisa cepat beres.” Lidya tertawa dari balik laptopnya. Anna ikut tertawa.
“Aku cuma bisa mendoakan semoga semuanya berjalan dengan lancar.”
“Amin. makasih ya An. Eh, ngomong-ngomong kamu masih kerja di kantor itu?” Lidya menoleh pada Anna.
“Masih. Ya dulu memang bos ku itu workaholic banget tapi itu karena pekerjaan yang menumpuk terlalu banyak dan aku sebagai karyawannya mencoba mengerti meski terkadang sikap bosku itu terlampau ekstrim dan aneh. Seiring berjalannya waktu bosku berubah. Beliau menjadi lebih ramah, meski sebenarnya memang ramah, lebih banyak senyum, suka bercanda. Aku tahu bahwa badai pasti akan berlalu.” Anna tersenyum.
Sejenak Anna teringat masa awal kerja bersama bosnya itu. Kerja 24 jam nonstop. Dimarahi tiap hari. Disalahkan atas apa yang tidak pernah dilakukan. Menguras tenaga dan kesabaran. Anna dan beberapa rekan kerjanya sudah berniat untuk keluar tapi niat mereka maju mundur. Beruntung dua bulan terakhir bos Anna berubah 180 derajat. Itu menjadi kabar menggembirakan bagi Anna dan rekan kerjanya. Tanda merdeka bagi mereka. Ucapan selamat tinggal untuk lembur dan malam-malam yang suram.
Dua orang pelayan membawa nampan pesanan mereka. Pembicaraan Anna dan Lidya terputus.
“Permisi mbak.” Pelayan pertama meletakkan tiga piring berisi nasi putih di atas meja. Disusul Satu nampan berisi ayam goreng pedas manis yang terlihat menggoda. Yang terakhir minuman untuk mereka bertiga. Jus jambu untuk Anna, Es teh untuk Lidya dan Es campur untuk Erna. Lidya menyenggol Erna yang asyik bermain handphone.
“Makan dulu. Sms siapa si?” Lidya penasaran.
“Paling mas ehem ehem.” Anna menggoda.
Erna tersenyum salah tingkah. “Apaan si. Kalian kepo banget deh.”
“Kamu masih sama dia?” Anna menggigit kentang goreng dengan santai.
“Masih. Dia tu baik banget sama aku An. Perhatian. Beruntung banget deh punya pacar kayak dia.” Erna ikut mengambil kentang. Memandang dengan wajah berbinar.
Lidya memasang ekspresi bingung, tak mengerti.
“Dia? Kamu sudah punya pacar Er?” Lidya penasaran, matanya kembali memandang laptopnya.
“Ya gitu lah, Namanya juga anak muda. Sudahlah kita makan dulu keburu dingin. Ayo Lid. Kerjaannya ditinggal dulu. Gak akan kemana-mana juga kan.”
Lidya menutup laptopnya dan segera meraih piring nasinya.
“Kalau perlu iket aja pake tali.” Erna tertawa, disusul tawa Anna dan Lidya. Suasana menjadi lebih nyaman. Rasa canggung perlahan memudar.
“Eh, kita foto dulu yuk. ya?” Anna meletakkan gelas minumannya. Nasi Anna sudah habis lebih dulu. Erna masih asyik dengan ayam miliknya. Sedangkan Lidya dengan wajah tenang memandang Anna.
“Gimana? Kalian mau kan?”
“Buat apa An?” Tanya Lidya
“Buat kenang-kenangan. Kita kan udah lama gak foto bareng. Aku janji ini yang terakhir. Ya?”
“Ok lah” Lidya dan Erna menjawab berbarengan.
Malam semakin larut namun kesibukan masih belum beranjak dari kota. Masih tampak kendaraan yang berlalu lalang. Para pedagang kaki lima masih setia melayani pembeli.
“Gimana tadi acaranya An?” bu Sinta, ibu Anna menyapa saat Anna keluar dari kamar mandi selesai menggosok gigi.
“Seru lah bu. Sudah lama aku gak kumpul bareng mereka. Rasa rindu terobati. hehehe. Anna tidur dulu ya.”
Ibu Anna tersenyum. Ikut senang.
Hari yang melelahkan. Anna membaringkan tubuhnya yang letih di atas sofa ruang tamu. Rumah sepi. Hanya gerak jarum jam yang terdengar. Pukul lima sore. Handphone Anna bergetar. Anna meraba tas mencari handphonenya. Sms dari Erna.
An, ntar malem kamu sibuk gak? Jalan yuk. Erna
Cepat Anna mengirim balasan.
Q gak sibuk. Ok.
Langit malam meriah dengan kelap kelip bintang. Semakin semarak dengan lampu taman kota dan kesibukan orang-orang. Beberapa orang bergerombol di pinggir taman kota, tertawa dan bercanda dengan temannya. Anna melangkah mantap menuju tempat tujuan. Handphone Anna bergetar untuk kesekian kalinya. Pukul tujuh malam, Anna sudah terlambat dari janji dengan Erna. Motor Anna mendarat mulus di parkiran warung makan sederhana. Anna berlari kecil ke dalam rumah makan.
“Maaf Er, aku terlambat. Maaf ya.” Anna duduk di depan Erna. Erna memasang wajah manyun.
“Er, kok diem aja. kamu marah? Maaf maaf. Ceritanya jadi apa gak ni?”
Erna menghela nafas pelan, “Aku baru putus sama Hasan. Aku shock. Gak percaya. Padahal selama ini kami baik-baik aja. Tadi siang dia menemuiku dan mengatakan dia…” kalimat Erna menggantung di langit-langit warung makan. Lengang di antara mereka. Mata Erna berkaca, segera airmata membasahi kedua pipi Erna.
Anna meraih tisu dan memberikannya pada Erna.
“Kamu sudah tanyakan alasannya?”
“Sudah Ann. Tapi dia gak mau menjelaskan. Entahlah. Aku tidak mengerti. Dia sudah berubah.”
“Kalian punya masalah sebelumnya? Tidak mungkin Hasan memutuskan hubungan tanpa alasan yang jelas.”
“Beberapa hari sebelumnya memang kami sempat bertengkar. Aku marah padanya. Belakangan dia susah sekali dihubungi. Disms tidak pernah dibalas apalagi kalau aku telfon, tak pernah sekali pun diangkat. Aku nekat masuk ruangan kelasnya, dan dia hanya bilang kalau dia sedang banyak tugas tidak ingin diganggu. Dia balik marah padaku padahal sebelumnya tidak pernah sekali pun dia marah padaku. Aku paham dan mengerti kalau dia ada banyak tugas, tapi tidak bisakah dia memberi kabar. Sekadar sms.” Erna menyeka airmata yang makin deras.
“Sabar Er. Mungkin Hasan memang tidak ingin diganggu.”
“Aku ingin minta bantuannya Ann. Dia dulu selalu membantuku tapi sekarang dia cuek gak peduli.”
“Kamu seharusnya bisa mengerti dia Er. Dia juga kan ada banyak tugas yang mungkin harus segera ia selesaikan. Kamu datang minta bantuannya. Itu memicu amarahnya. Wajar jika dia marah.”
Erna menatap Anna tajam. Yang ditatap bingung. Apa aku salah bicara, pikir Anna.
“Kamu tidak mengerti Ann. Kamu tidak merasakan apa yang aku rasakan jadi mudah saja kamu bicara seperti itu.” Erna meraih tasnya dan pergi meninggalkan Anna yang masih bingung.
Anna mengejar Erna. Erna sudah menghidupkan mesin motornya, dalam sekejap menghilang di tengah lalu lintas malam yang ramai. Anna segera menghidupkan motornya. Terburu-buru mengenakan helm.
“Erna. Erna. Tunggu Er.” Anna berteriak memanggil nama Erna, tapi Erna tidak sedikit menoleh. Anna menyusul mengejar Erna yang menghilang di pertigaan. Jalanan kota padat lancar. Sepasang muda-mudi berboncengan mesra dan saling mengucapkan kalimat gombal saat Anna menyalip. Erna seratus meter di depan Anna. Anna menambah laju kecepatan motornya. Terus berdoa agar Erna menghentikan kendaraan dan menyelesaikan salah paham di antara mereka. Sial, tiba-tiba sebuah motor menyalip. Motor itu menyenggol sepeda motor Anna. Anna terkejut dan tidak bisa mengendalikan laju motornya hingga akhirnya motor Anna menabrak pohon di tepi jalan. Anna terlempar jauh dari motornya. Pengendara yang menyenggol Anna kabur meninggalkan Anna yang terkapar tak berdaya di tepi jalan. Dengan sedikit kesadaran yang masih tersisa, Anna mencoba bangkit namun sedetik kemudian roboh.
Ruang tunggu rumah sakit lengang. Ibu Anna berdiri cemas. Berkali-kali mengintip Anna yang masih diperiksa dokter. Lidya duduk dengan cemas. Ia masih berusaha menghubungi Erna memberi kabar bahwa Anna kecelakaan.
“Er, angkat dong Er. Ayo.” Lidya menggerutu sendiri. Itu untuk kesekian kalinya ia menghubungi Erna tapi yang menjawab operator telfon. Lidya menyerah. Ia memasukkan handphonenya ke dalam tas. Saat itu dokter yang memeriksa Anna keluar ruangan.
“Bagaimana dok? Bagaimana keadaan putri saya dokter?” Ibu Anna meluncurkan pertanyaan saat dokter keluar ruangan. Dokter berusaha tersenyum ramah pada ibu Anna.
“Kondisi putri ibu sangat krisis. Putri ibu kehilangan banyak darah. Harus segera dilakukan transfusi darah untuk mencegah kemungkinan yang lebih buruk. Transfusi darah baru bisa dilakukan besok pagi karena stok darah untuk putri ibu sedang kosong. Ibu banyak berdoa memohon pada Tuhan agar putri ibu bisa melewati masa kritisnya. Saya permisi.” Dokter melangkah meninggalkan Ibu Anna. Lidya mengangguk saat dokter melewatinya.
“Yang sabar ya bu dhe.” Lidya memegang pundak ibu Anna yang bergetar saat melihat Anna terbaring lemah. Wajah Anna pucat. Kepala Anna diperban. Ada beberapa luka lecet di lengan Anna. Anna terlihat damai seperti sedang mengalami tidur panjang seperti seorang putri yang terkena kutukan sang penyihir jahat dan menunggu kedatangan seorang pangeran yang akan membangunkannya. Meski wajahnya pucat, senyum Anna masih terkembang tipis di bibir indahnya. Airmata Ibu Anna semakin deras. Matanya terus menatap putrinya itu. Waktu berjalan teramat cepat. Langit menjadi gelap. Siang telah berubah menjadi malam.
“Sudah malam bu dhe. Lebih baik bu dhe tidur. Biar saya yang menjaga Anna.” Lidya memberi usul.
“Bu dhe belum ngantuk. Bu dhe mau salat dulu, bu dhe belum salat isya’. Kamu bawa mukena Lid?.” Ibu Anna bertanya.
Lidya mengambil mukena dari dalam tas dan menyerahkannya pada Ibu Anna.
Ibu Anna bersujud dengan takzim dan khusyuk. Bulir bulir airmata jatuh di atas sajadah. Doa demi doa terpanjatkan pada Tuhan Pemilik Semesta Alam. Sejenak kedamaian menyusup ke dalam hati. Lidya yang belum bisa tidur mendengarkan detail kalimat doa ibu Anna. Betapa besar kasih sayang seorang ibu. Ibu yang mengandung, melahirkan, merawat dan mendidik anak-anaknya tanpa kenal lelah. Berapa banyak yang anak telah berikan kepada ibu tetap tidak akan sepadan dengan yang telah ibu berikan pada anaknya. Benar jika kasih ibu sepanjang masa, sedangkan kasih anak sepanjang jalan.
Dengan hati-hati Lidya meraih handphone di dalam tasnya. Mencoba menghubungi Erna lagi. Lidya mengirim sms mengabarkan Anna masuk rumah sakit. Malam semakin larut. Ruangan lengang. Lidya sudah tertidur satu jam yang lalu setelah mengirim sms kepada Erna. Ibu Anna tertidur di samping ranjang Anna.
Keesokan harinya. Pukul enam pagi. Erna berlari lari kecil sepanjang lorong rumah sakit. Bertanya dimana Anna dirawat. Anna melihat Lidya dan ibu Anna menunggu di ruang tunggu. Wajah mereka menandakan kabar yang tidak baik.
“Bu dhe, maaf bu dhe Erna baru bisa datang. Bagaimana keadaan Anna bu dhe?” Erna menyalami Ibu Anna.
Ibu Anna hanya menggeleng, enggan berbicara. Wajahnya tampak sangat letih.
“Satu jam yang lalu tubuh Anna mengejang. Kami tidak tahu kenapa. Dokter datang dan meminta kami keluar ruangan.” Lidya angkat bicara. Mata Erna berkaca hampir saja airmatanya tumpah. Erna mengintip dari balik jendela. Dokter tampak sibuk memeriksa Anna. Wajah Anna semakin pucat. Namun senyum tipis itu masih terkembang. Erna duduk tertunduk di sebelah Lidya.
“Ini semua salahku.” Suara Erna bergetar.
“Apa? kamu bilang apa Er?” Lidya menoleh.
“Ini semua salahku Lid. Kemarin aku marah pada Anna dan aku meninggalkannya begitu saja di warung makan itu. Anna berusaha mengejarku tapi aku tidak mempedulikannya. Kecelakaan ini terjadi karena aku Lid.” Erna memaki dirinya sendiri.
“Ini semua kehendak Tuhan, Er. Terlepas ini salah siapa. Dari kejadian ini semoga kita bisa menjadi teman yang lebih saling mengerti dan memahami satu dengan yang lain. Membuang semua ego diri. Kita berdoa saja agar Anna bisa melewati masa kritisnya dan bisa kembali berkumpul bersama kita.” Lidya merangkul pundak kawan baiknya itu, menenangkan. Erna, Lidya dan ibu Anna tiada henti berdoa, memohon agar Anna diberi kesembuhan. Dzikir tak pernah putus dari bibir mereka.
Waktu berlalu bagai siput berjalan. Sudah lebih dari satu jam mereka menunggu namun belum ada tanda-tanda Anna akan sembuh setidaknya bangun dari tidur panjangnya. jarum jam menunjuk angka sebelas dan sebentar lagi pukul delapan, saat itulah dokter keluar dari ruangan Anna. Tak ada senyum yang kemarin sempat dilihat Lidya dan ibu Anna. Wajah itu mendesah pelan saat ibu Anna, Lidya dan Erna mendekat.
“Bagaimana dokter?” ibu Anna menguatkan diri bertanya.
“Putri ibu sudah siuman tapi saya minta jangan terlalu banyak diajak bicara karena kondisinya masih sangat lemah. Saya permisi.” Dokter berpamitan.
Mata itu terlihat sangat sayu. Seolah cahaya kehidupan tercabut paksa dari dirinya. Anna tersenyum pada ibu, Lidya dan Erna saat mereka masuk ruangan setelah izinkan dokter.
“Anna tidak apa-apa bu.” Suara itu terdengar sangat rapuh. Senyum tipisnya masih terkembang. Ibu Anna menangis tanpa suara. Tak sanggup. Lidya dan Erna berdiri mematung.
“Erna, maafkan aku. Mungkin…,” Anna menarik nafas panjang, “perkataanku kemarin menyakitimu.” Erna mendekat dan mendekap Anna erat.
“Tidak Ann. Seharusnya aku yang minta maaf. Tidak seharusnya aku berkata seperti itu.”
“Sudahlah Er.” Lidya menengahi.
“Kita… lupakan saja… masalah itu.” Anna menjawab patah-patah.
“Cepat sembuh ya nak. Jangan tinggalkan ibu sendiri. Ibu tidak mau kamu pergi. Lebih baik ibu saja yang pergi.” Ibu Anna tersedu.
“Jangan bilang begitu bu. Ibu sendiri kan yang selalu bilang hidup dan mati seseorang ada di tangan Tuhan.” Nafas Anna semakin berat. Ibu Anna, Lidya dan Erna panik. Lidya berlari menuju pintu dan berteriak memanggil dokter. Tak ada yang datang.
“Bu dhe saya cari dokter dulu bu dhe. Anna kamu harus bertahan.” Lidya menatap Anna. Ibu Anna dan Erna bingung harus berbuat apa. Patah-patah Anna mengucapkan dua kalimat syahadat. Ibu Anna membimbing dengan hati teriris. Di ujung kalimat mata Anna perlahan tertutup. Tangis Ibu Anna dan Erna seketika pecah.
“Anna bangun. Jangan tinggalkan ibu. Anna bangun nak.”
“Anna bangun. Aku mohon Ann. Buka matamu Ann.”
Dari arah pintu muncul Dokter dan Lidya.
Ibu Anna menoleh, “Dokter tolong selamatkan anak saya dok. Tolong.” Ibu Anna memohon dengan bersimbah airmata.
“Saya periksa dulu bu.” Dokter meminta Ibu Anna, Lidya dan Erna keluar ruangan.
Lima menit kemudian.
“Maaf bu. Putri ibu sudah tidak ada. Detak jantungnya berhenti sejak empat menit yang lalu. Saya sudah berusaha semampu saya. Maaf. Ibu yang sabar. Saya permisi.” Dokter mencoba menghibur.
“Bu dhe, yang sabar bu dhe.” Lidya dan Erna membimbing Ibu Anna duduk. Lorong rumah sakit lengang. Mereka menatap perih jasad Anna yang telah tertutup kain putih.
Langit di atas sana hitam pekat. Hujan sebentar lagi datang. Titik titik air hujan berubah menjadi deras dalam hitungan menit. Menambah suasana yang pedih menjadi lebih pedih. Para tetangga, teman sekolah, rekan kerja, bos Anna datang mengucapkan belasungkawa pada ibu Anna. Pemakaman mulai sepi. Tinggal Lidya, Erna dan Ibu Anna.
“Bu dhe, kita pulang yuk. Hujannya semakin deras bu dhe. Nanti bu dhe sakit.” Lidya membimbing ibu Anna melangkah. Erna mengikuti dari belakang. Erna mendongak, memandang langit yang berwarna abu-abu.
Meski langit menjadi gelap, hujan turun dengan derasnya, aku masih bisa melihat senyum indahmu, teman. Sebuah senyum yang tersembunyi di balik hujan.
“Erna, ayo. Hujannya makin besar. Kalau kamu pingsan aku gak mau gendong lho ya.” Lidya berseru dari tepi jalan raya. Membuyarkan lamunan Erna.
“Eh? Jahat banget sie. Tunggu.” Erna berlari-lari menghindari hujan.
Anna kau akan menjadi teman terbaikku, selamanya.
BEST FRIEND
“Aku melihat Mas Aldi menunggangi kuda putih. Ia datang menghampiriku, Fit. Mengajakku berkeliling. So sweet banget.” Dengan wajah sumringah Siska menceritakan mimpi indahnya semalam. Mimpi indah bersama sang pujaan hati, Mas Aldi. Matanya melayang menatap langit biru. Kalau di film kartun mungkin akan ada balon berbentuk hati yang terbang mengelilingi dirinya. Aku hanya geleng-geleng kepala. Entah sudah berapa kali Siska menceritakan mimpinya itu padaku.
Mas Aldi itu tetangga dekatku. Rumahnya hanya berjarak dua gang denganku. Orangnya baik, sopan, juga rajin jama’ah di Masjid desa. Aku sering berpapasan dengannya saat jama’ah di Masjid. meski kami satu desa tapi aku jarang ngobrol dengannya. Dan Siska mengenal Mas Aldi secara tak sengaja. Waktu itu ada pengajian di Masjid desaku. Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Aku mengajaknya menghadiri pengajian karena esok hari libur kerja.
“Itu siapa Fit? Ganteng banget.” Siska menunjuk Mas Aldi yang waktu itu juga menjadi panitia acara pengajian.
“Namanya Mas Aldi.”
“Udah punya pacar belum?”
“Emmm, kasih tahu gak ya?” aku tersenyum menggoda,
“Kasih tahu dong Fit. Please.”
“Setahuku si belum. Kenapa memangnya?”
Siska hanya tersenyum memandangi Mas Aldi yang sedang sibuk menata bangku untuk bapak-bapak. Sejak hari itu Siska jadi sering tanya soal Mas Aldi padaku. Hari ulang tahunnya, makanan kesukaannya, kegeamarannya, warna kesukaannya, dan segala hal yang berkaitan dengan pujaan hatinya, Mas Aldi.
“Mana aku tahu Sis. Kamu tanya langsung aja sama orangnya.” Jawabku.
Aku benar-benar tidak habis pikir. Apa Siska benar-benar suka sama Mas Aldi? Entahlah.
Tanpa sepengetahuanku Siska menemui Mas Aldi. Entah kapan dan dimana aku tidak tahu.
“Ternyata dia itu guru, Fit.” Siska bercerita padaku di sela-sela jam istirahat kerja.
“Emmm.” jawabku singkat.
“Orangnya juga ramah.”
“Emm,” Aku menggigit bakwan goreng.
“Perfect banget ya, Fit. Mungkin gak ya aku berjodoh sama Mas Aldi.”
Aku tersedak. Segera aku meraih gelas minumanku, “Apa? Tapi… mungkin saja. Berdoa pada Allah agar kalian ditakdirkan berjodoh. Tapi, inget jangan nekat. Mas Aldi gak suka sama cewek yang over.”
“Amin. Sip sip.”
Pukul delapan malam Siska datang ke rumahku. Raut mukanya tegang. Seolah hal buruk sedang menimpanya. Siska mendapat kabar kalau Mas Aldi dirawat di rumah sakit. Kecelakaan.
“Innalillahi wainnaillaihi rojiun.” Aku setengah tidak percaya.
“Fitri. Kamu apaan si. Mas Aldi kan cuma sakit gak meninggal.”
“Saat saudara kita ada yang tertimpa musibah entah itu kecelakaan ataupun meninggal dunia, kita sebagai muslim yang baik harus mengucapkan, “innalillahi wainnaillaihi rojiun. Karena semua yang ada di dunia ini adalah milik Allah dan akan kembali pada Allah.”
“Oh, begitu. Innalillahi wainnaillaihi rojiun.” Siska mengikuti perkataanku.
“Fit, temenin aku jenguk Mas Aldi ya. Please…”
“Sekarang?” Aku bertanya,
Siska mengangguk mantab, “please”
Setelah membeli buah-buahan untuk Mas Aldi, kami berdua meluncur Ke Rumah Sakit Hasanudin, tempat Mas Aldi dirawat. Mas Aldi sedang istirahat saat kami datang. Ibu Mas Aldi menyambut kami dengan ramah. Siska mendekati tempat tidur Mas Aldi. Dipandanginya orang yang ia sayangi itu lekat-lekat. Aku jadi miris. Semoga kalian benar berjodoh ya Sis. Amin.
Langit senja selalu menjadi pemandangan yang menyenangkan bagiku. Rasa penat, lelah dan suntukku hilang dalam sekejap. Biasanya aku menikmati langit senja bersama Siska namun tidak untuk hari ini. Siska izin libur kerja selama 3 hari. Aneh memang karena biasanya aku dan Siska selalu bersama dan sekarang tidak ada Siska rasanya…
Seseorang tiba-tiba membunyikan bel dari arah belakangku.
“Huh, siapa sich” Gerutuku dalam hati. Pengendara sepeda motor itu mendekat.
“Hai, Fit. Sendirian saja?” Pengendara motor itu menyapaku. Dia Mas Aldi. Waduh, kenapa disaat seperti tidak ada Siska.
“Eh, iya Mas. Siska hari ini tidak masuk kerja jadinya aku pulang sendirian.”
“Oh, gitu. Temanmu itu lucu ya. Orangnya ceria.” Mas Aldi senyum-senyum.
Jadilah kami berdua pulang bersama. Ya, rumah kami juga kan searah. Entah kebetulan atau bagaimana tiga hari ini aku sering berpapasan dengan Mas Aldi. Kebersamaan yang cukup menyenangkan. Mas Aldi sering bercerita tentang kegiatan di Masjid desa kami.
“Ikutlah, Fit. Tidak apa-apa. Ajak juga temanmu si Siska itu.” Mas Aldi membujukku. Aku hanya membalas dengan tersenyum.
Hari minggu. Mentari di atas sana memancarkan cahaya dengan penuh suka cita. Beberapa kupu-kupu terbang dan sesekali hinggap pada bunga-bunga yang mulai bermekaran. Terdengar suara kokok ayam tetangga yang sedang sibuk mencari makan. Ramai sekali. Seharusnya aku merasa damai. Nyatanya tidak. Pukul tujuh pagi saat aku sedang melahap menu sarapanku, Siska datang ke rumahku. Wajahnya merah padam. Tak kulihat senyum manja miliknya.
“Munafik kamu Fit. Tega kamu.” Dengan emosi meluap Siska memarahiku.
Aku diam tak mengerti. Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba Siska marah padaku.
“Aku tidak menyangka, Fit. Kamu benar-benar tega sama aku.”
“Ada apa Sis? Aku tidak mengerti?”
“Alah, Jangan pura-pura tidak tahu kamu, Fit. Saat aku tidak masuk kerja kemarin kamu sering jalan bareng sama Mas Aldi. Kamu suka sama Mas Aldi? Kamu tahu kan kalau aku suka sama Mas Aldi. Tapi kenapa kamu tega sama aku, Fit?” Siska menyeka airmatanya.
“Aku… Aku tidak ada apa-apa sama Mas Aldi Sis. Kami tidak sengaja bertemu dan kami pulang bareng. Itu saja. Kamu salah paham Sis. Aku tidak punya perasaan apa-apa sama Mas Aldi. Percaya sama aku, Sis.”
Siska tidak percaya dengan semua kata-kataku. Ia menganggap aku telah merebut Mas Aldi darinya. Ia menganggap aku telah mengkhianati dirinya dan persahabatan kami.
Selama satu minggu ini Siska susah sekali dihubungi. Setiap kali aku telefon tak pernah sekalipun diangkat. Di tempat kerja pun Siska lebih memilih menghindar. Hatiku terasa hancur. Persahabatan yang telah aku bina sejak kami berdua masih duduk di bangku SMP harus pecah dan terancam hancur hanya gara-gara cowok. Siska, kenapa kamu tidak percaya padaku. Tak pernah sedikit pun aku berniat untuk merebut Mas Aldi darimu. Aku tidak mungkin merebut kebahagiaan sahabatku sendiri. Tapi kenapa?
Pikiranku kacau. Semua terlihat hitam dan gelap. Kurasakan hujan akan segera datang.
Seseorang mengetuk pintu kamarku. Dengan malas aku membukanya, ternyata Mas Ferdi.
“Fit, ikut aku yuk.”
“Malas”
“Ayolah, Fit. Daripada kamu di rumah tidak ada kerjaan.”
“Malas ah. Siang-siang begini mau kemana sich? Enakan juga tidur.”
“Sebentar doang. Cuma mau nganterin pesanan undangan. Ayolah Fit. Masak kamu tega ngelihat kakakmu ini bawa barang sebanyak itu.” Mas Ferdi menunjukkan bungkusan plastik yang ukurannya lumayan besar padaku. Akhirnya aku mau menemani Mas Ferdi ke rumah temannya itu. Udara di luar benar-benar sangat panas. Kuraih jaket yang tergantung di dekat almari. Jalanan sepi. Hanya dua tiga kendaraan yang berlalu lalang. Mereka mungkin lebih senang berdiam di dalam rumah menikmati segelas es buah daripada harus berpanas-panasan seperti ini. Saat itu aku bertemu Siska, Ia baru saja keluar dari supermarket. Siska melajukan sepeda motornya sangat cepat. Aku tak sempat untuk menyapanya.
“Fit, Itu Siska kan. Kok tumben. Kalian marahan?” Mas Ferdi berkata setengah berbisik padaku. Aku diam. Mataku terus memandang punggung Siska yang semakin lama menghilang di ujung belokan. Mas Ferdi membelokkan kendaraan ke kiri. Bukankah ini gang ke rumah Mas Aldi? Aku tersadar. Aku menjadi penasaran siapa teman Mas Ferdi yang memesan surat undangan yang sedari tadi aku pegang. Aku membuka bungkusan plastik dengan perasaan tak menentu. Undangan pernikahan Mas Aldi. Jantungku terasa berhenti berdetak. Tiga hari lagi Mas Aldi akan menikah. Aku terpaku menatap undangan berwarna coklat yang ada di tanganku. Seketika aku teringat Siska. Apakah dia sudah tahu kalau Mas Aldi akan menikah? Segera aku ambil handphone dan dengan cepat jemariku menulis pesan singkat untuk Siska. Namun gerak tanganku terhenti. Aku ragu, apakah Siska akan percaya? Siska masih marah padaku mana mungkin ia akan percaya. Pesan singkat itu mengambang di layar handphoneku.
Hari yang cerah. Hari ini pernikahan Mas Aldi. Para tamu undangan duduk memenuhi meja tamu sambil menikmati hidangan yang sudah disediakan. Mas Aldi kelihatan sangat berbeda. Rapi dan tampan, tak heran jika Siska begitu mengidamkan Mas Aldi. Senyum bahagia terpancar dari wajahnya. Seorang perempuan muda berdiri di samping Mas Aldi. Perempuan itu kelihatan sangat cantik dengan kebaya putih. Senyum bahagia juga terpancar dari wajah cantiknya. Ia Mbak Arini, seorang yang aku kenal sangat baik dan sopan. Yang sekarang telah resmi menjadi isteri mas Aldi.
“Fit, sebelah sana belum dibersihin.” Mas Ferdi menyenggol lenganku membuyarkan aktifitas melamunku. Aku segera menuju meja yang ditunjuk kakakku itu. Matahari mulai condong ke barat. Namun para tamu masih banyak yang datang. Tubuhku mulai merasa letih. Jilbab panjangku berayun ditiup angin yang lewat. Sejuk rasanya. Aku teringat Siska. Bagaimana dia sekarang? Sudahkah dia tahu Mas Aldi hari ini menikah? Semua pertanyaan itu berjejal di kepalaku. Tiba-tiba sebuah nada pesan berdenging dari handphoneku. Satu sms masuk.
“Fitri. kamu dimana? Aku ingin bicara. Aku sekarang di teras rumahmu.”
Sms dari Siska. Ada apa lagi? Aku bertanya pada diriku sendiri.
Aku memasuki halaman rumah. Siska berjalan mendekatiku. Airmata tumpah dari pelupuk matanya. Tanpa kuduga Siska memelukku.
“Fit, maafkan aku ya. Aku sudah marah-marah sama kamu. Aku sudah menuduh kamu. Sudah menganggap kamu pengkhianat. Maafkan aku ya, Fit”
“Ya, Sis. aku sudah memaafkan kamu kok. Yang lalu biarlah berlalu. Semoga kita bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi. Tapi, kamu jangan cemburu berlebihan seperti kemarin ya, Sis.” Aku tersenyum pada sahabatku itu
“Siap, bos. Kamu memang best friend aku Fit. Meski aku sudah menyakiti kamu tapi kamu masih mau menerima aku. Kamu teman aku yang paliiiing baik deh.” Siska mencubit kedua pipiku.
“Lebay deh. Sudahlah. Manusia juga kan bisa khilaf. Tapi jangan diulangi lagi lho ya.”
Siska mengacungkan dua jempol padaku.
Langit senja tersenyum bersama kami. Semilir angin menari-nari di antara dedaunan. Menerbangkan ujung jilbab biruku.
Terimakasih ya Rabb, Engkau telah membuka hati Siska dan kami bisa bersama kembali. Jagalah persahabatan kami, ya Rabb. Jauhkan dari permusuhan dan perselisihan. Agar kami bisa bersahabat hingga kami tua nanti. Amin.