Selasa, 09 Juni 2015

SELAMAT TINGGAL JANUARI
“Lo tahun baru mau kemana, Vir?” Tanya Rena padaku.
“Entahlah. Mungkin Papaku ngajakin ke tempat bersalju untuk menghabiskan bulan pertama di tahun baru disana.” Jawabku singkat.
Sesungguhnya aku malas mengikuti papaku untuk ke Eropa. Menghabiskan malam tahun baru di tempat dingin yang suhunya hanya beberapa derajat bahkan minus itu membosankan bagiku. Bagi gadis usia 18 tahun yang cinta fashion ini. Apalagi harus memakai baju tebal dan penutup kepala agar telingaku terlindung dari dingin ketika keluar rumah. Tapi kalau tidak ikut ke Eropa, aku akan kehilangan kesempatan belanja di sana.
“Papa udah pulang ya, Ma?” tanyaku pada mama saat aku sampai di rumah.
“Sudah. Tuh Papa nungguin kamu. Katanya mau bilang sesuatu padamu.” Kata Mama sambil tersenyum manis.
Aku hanya nyengir lihat senyum Mama. Kemudian aku berlalu dan menemui Papa. Saat melihatku Papa pun tersenyum padaku. Aku sungguh bingung dengan semua ini. Ada apa ini?
“Siapkan barangmu. Besok kita akan berangkat.” Kata Papa.
“Papa, aku di rumah saja ya. Aku ingin merayakan tahun baru bersama teman-teman kampus” kataku memelas.
“Sayang sekali. Padahal tiket pesawat ke Korea sudah Papa beli.”
“Tunggu! Ke Korea? Aku ikut Pa. aku siap-siap dulu.” Kataku sambil berlari menuju kamar.
Aku bersama kedua orangtuaku sudah tiba di salah satu bandara di Korea. Namun terburu-buru aku pergi ke toilet. Aku merasa ada yang tidak beres dengan perutku. Aku segera masuk toilet untuk menyelesaikan urusan perut.
Setelah beres, aku berlari keluar bandara untuk menemui orangtuaku yang sedang menungguku di luar bandara. Namun di tengah perjalanan aku menabrak seorang pemuda Korea yang tampan menurutku. Wajahnya mirip Lee Min Ho.
“I’m sorry. I don’t mean” kataku.
“No problem. Are you Indonesian people?” tanyanya padaku sambil memperhatikan wajahku. Aku canggung dipandangi orang seperti itu.
“Yes.” Jawabku singkat.
“Aku juga dari Indonesia. Mamaku orang Indonesia. Tapi aku tinggal di Korea bersama Papa dan Mamaku. Namaku January. Siapa namamu?” katanya sambil mengulurkan tangan dan tersenyum.
“Nama yang unik. Namaku Vira.” Kataku sambil menerima jabatan tangannya. Tubuhku serasa bergetar ketika tangan kami bersentuhan.
“Aku lahir di bulan Januari. Papaku yang memberi nama itu.” Katanya.
Setelah pertemuan itu, kami sering bertemu. Kami juga merayakan malam tahun baru bersama di sebuah tempat yang terkenal di Korea. Sejak malam itu aku merasa ada yang aneh padaku. Aku merasa bahagia. Belum pernah aku sebahagia ini.
Aku dan January semakin dekat. Aku merasa bahwa dia juga mencintaiku. Dia begitu perhatian dan baik terhadapku. Hampir setiap hari kita bertemu. Semakin hari rasanya aku semakin menyukai January.
Malam itu January mengajakku kencan. Aku berdandan agar terlihat cantik malam itu di hadapan January. Aku ingin menjadi wanita paling cantik dalam restoran itu. January menggandengku masuk ke dalam restoran itu. Kemudian dia menyediakan aku kursi untuk aku duduki. Aku serasa menjadi princess malam itu.
“Em… Vira, aku mencintaimu. Apakah kamu juga mencintaiku?” kata January tanpa berbasa-basi.
“January, aku juga mencintaimu. Aku mencintaimu saat aku menabrakmu di bandara dulu. Sejak saat itu aku merasa ada yang berbeda dariku. Aku merasakan ada getaran yang amat kencang saat aku bersamamu. Terlebih saat kamu menatap mataku.”
Kemudian January mencium punggung tanganku. Mungkin aku adalah perempuan yang paling bahagia di dunia malam itu. Namun, aku bingung. January sudah mengutarakan perasaannya padaku. Tapi dia tidak memintaku untuk menjadi kekasihnya.
Hari itu adalah hari akhir di bulan Januari. Dan hari terakhirku di Korea. Sejak kejadian malam itu, January tidak pernah mendatangiku. Aku juga tidak pernah melihat sosoknya saat aku berjalan-jalan atau berbelanja. Aku ingin sekali berpamitan dengannya. Tapi aku tidak pernah lagi melihatnya.
Saat dalam pesawat, aku berpikir bahwa January adalah kado tahun baru dari Tuhan untukku. Yah, hanya kado tahun baru. Hanya kado untuk bulan Januari. Bukan bulan-bulan lainnya. Dia datang di bulan Januari dan dia pergi setelah bulan Januari habis. Pantaslah jika namanya January.
Aku mencintai January. Namun aku tidak sedih saat aku harus berpisah dengannya. Aku tidak tahu kenapa semua bisa terjadi. Tapi aku masih mencintainya dengan kesungguhan hati. Selamat tinggal January dan Januari.
MENUDUH HUJAN
Malam ini hujan mengguyur seluruh tubuhku, Tahukah kau aku mengigil kedinginan di sini, sambil menunggu sebuah kata yang masih kau tahan dalam mulutmu, walau sebenarnya aku tahu apa yang kau ingin katakan, aku lihat itu dari matamu, aku pun tau kau tak sanggup mengatakannya.
Kau ingin tinggalkan semua cerita cinta yang dulu sempat kita rangkai bersama. Aku hanya bisa menitikkan Kristal- Kristal bening yang menyatu dengan rintik hujan ini, rasanya mataku pun sudah pedih.
Dia belai rambutku namun ia tetap membisu, di rengkuhnya tubuhku masuk dalam dekapannya, terdengar jelas degup jantungnya di telingku, akhirnya dia berbisik lirih tapi sangat jelas di telingaku.
“Santy maafkan aku, kini akhiri saja semuanya di sini”
Aku pun tak banyak kata, aku hanya diam terpaku dan hingga akhirnya ia tinggalkan aku disini bersama hujan.
Sampai Dimas menghilang dari pandanganku, aku masih tetap diam terpaku tak bergerak, hingga akhirnya aku melihat ada cahaya lampu mobil menghampiriku dan dia berhenti tepat di depan ku, pintu mobil pun terbuka dan turunlah sesosok pria keluar dari mobil itu. Wajahnya tersamar dari pandanganku karena mata dan wajahku basah oleh air mata bercampur air hujan, pria itu lalu mendekatiku, tapi tampaknya aku kenal dengannya.
“hai Santy ngapain kamu di sini, sendiri lagi. mana hujan, becek, gak ada ojek lagi” pria itu menjoba bercanda.
Aku tetap diam dan bertanya dalam hati siapakah sosok pria yang menghampiriku ini.
“hemmm, siapa ya…?” aku mengerutkan dahi
“duh, Santy ini aku Kalam, hemmm teman SMA mu dulu”
“oh, maaf aku lupa, hujan membuatku rabun tampaknya” jawabku datar
“bukan hujan, tapi tangismu, matamu merah, kau habis nangis ya?”
“hemmm gak, hujan yang membuat mataku merah”
“bukan hujan tapi pria tadi yang buatmu nangis, aku melihatnya dari tadi San”
Aku pun diam sudah tak bisa menyangkal
“sudah kau sudah banyak menyalahkan hujan, ayo masuk dalam mobil, biar ku antar pulang” ucapnya lagi.
“baiklah, maafkan aku hujan, aku sudah menfitnahmu” kataku bersungguh-sungguh pada hujan
“kau masih gila seperti dulu, berbicara pada hujan” senyumnya sambil mengendarai mobilnya
“oh… ya, tapi aku tak seperti dulu lagi, Yang mudah dapatkan arti kesetiaan.”
“hahaha kamu ini” kalam tertawa lepas
Kami pun bercerita kesana-kemari mengingat masa lalu cerita masa SMP, sungguh aku rindu dengan masa itu.
Tak terasa kami telah sampai, sebenarnya aku ingin banyak mengobrol dengannya namun ini sudah malam. Jadi kami janjian besok sore jam 5 dia akan menjemputku.
Jujur sebenarnya dulu Kalam adalah gebetan aku, yang mungkin ku fikir mustahil untuk ku dapatkan, dan kini tak sangka dia datang pada waktu yang tepat, semoga dia akan menjadi pengganti Dimas, sekelumit doa terselip di relung hatiku.
Waktu yang ku tunggu-tunggu pun telah tiba, Kalam membunyikan klakson mobilnya, dengan cepat aku membuka pintu dan menghampirinya.
“hai Kalam” aku mengetuk pintu jendela mobil dan dia pun mebuka kaca jendela.
“hai San, ayo masuk” ramahnya, membuat jantungku makin berdetak.
Kami pun pergi tinggalkan rumah, Kalam membawaku pada sebuah tempat yang menurut ku menakjubkan ini sungguh indah, aku melihat matahari terbenam sempurna dan disini bersama Kalam, sungguh memang sempurna menurutku.
Tiba-tiba dia menyentuh tanganku membuat jantungku makin berdebar aku sangat bahagia sore itu, seperti aku terbang ke langit jingga ini.
“San kamu tau gak”
“apa?” entah mengapa jantungku semakin berdebar semua kurasa seperti mimpi. Namun tiba-tiba hujan turun dengan tiba-tiba sepertinya dia tak suka dengan apa yang kami lakukan ini. Kami pun bergegas memasuki mobil dan pulang.
Kalam mengantarku pulang lagi. Dan sampailah di depan gerbang rumah.
“Kalam Masuk yu!”
“oh… gak makasih, ya udah aku pulang dulu ya”
“hah ehmmm oh iya daaa” aku melambaikan tangan hingga mobil pun tak tampak dalam pandangan. Aku merasa kecewa gara-gara hujan membatalkan acara kami.
“uh dasar kau hujan, tadi hujan besar sekarang reda apa kamu gak bisa lihat aku bahagia” marah ku pada hujan. Dan malah dibalas dengan suara petir yang keras, hingga buatku takut dan bergegas lari ke dalam.
Setelah kejadian itu kami sudah tak bertemu lagi. Aku punya nomor teleponnya, ingin sekali aku telepon, namun sungguh gengsi rasanya bila cewek duluan yang telapon. Dari tadi aku hanya mondar-mandir, pikiranku dihantui oleh dua hal yang akan aku lakukan. Aku telepon Kalam atau menunggu sampai dia telephon. Tiba-tiba HPku berdering tanda ada SMS masuk, ku lihat di layarnya tertulis kalam, ada pesan dari kalam, aku tak sabar untuk membukanya,
“San ni aku kallam Keluar yu”.
Dan aku pun mengiyakan, katanya juga setengah jam lagi dia telah sampai ke rumahku, namun tampaknya hujan kan turun lagi mengganggu kebahagiaan ku bersama kalam, namun kalam tetap saja memaksa keluar.
“ayolah San kita pergi!” bujuknya padaku manis.
“kayaknya mau hujan Lam” keluhku
“memang kenapa kalau hujan?” ia bertanya lagi.
“duh hujan itu selalu ganggu aku kalau aku mau senang-senang”
“apa, jadi kamu seneng jalan sama aku” ia menggoda ku hingga muka ku merah seperti kepiting rebus.
“gak maksudku, kita kan mau pergi…” aku mencoba mengelak, aku jadi salah tingkah.
Kalam mengerlingkan matanya menunggu jawabanku.
“ah tau ah ribet” jawabku sekenanya.
“ya udah yuk kita berangkat, kan kita pakai mobil, jadi kenapa takut” ia membujukku dengan lembut.
Aku jadi teringat masa SMA dulu, kalam yang ku kenal dulu adalah kalam yang angkuh dan sombong, tapi sekarang amat berbeda.
“hai… ayo,” kalam menarik lenganku.
Aku sudah tak bisa berbicara apa-apa, aku hanya bisa menuruti bujukannya.
Aku dibawanya pada tempat yang kemarin di sebuah taman.
“sekarang gak bisa lihat matahari terbenam ya…” ucap Kalam manis.
“iya… berkat hujan, uh makasih hujan” kesalku pada hujan lagi.
“mengapa kau benci hujan, baiklah aku akan buat kau suka hujan”
Aku menatapnya bingung, entah telingaku yang salah atau memang otakku yang lemot sulit mencerna apa yang ia maksud.
“ayo kita tunggu hujan” lanjutnya yang membuatku semakin binggung.
Tak berapa lama hujan turun membasahiku dan kalam, tak fikir panjang aku berniat berlari memasuki mobil, tapi Kalam malah meraih tanganku dan menarik tubuhku ke dalam pelukannya.
“santy aku mau ngomong tulus dari lubuk hatiku, aku sayang kamu dan biarkanlah Hujan yang kau benci ini menjadi saksinya… dan kamu mau gak aku kini yang mengisi hatiku” ucap Kalam dengan tatapan matanya yang lembut, jujur saja aku yang selalu suka sorot mata indah itu.
Entah mengapa hatiku ingin berterimakasih pada hujan, aku tak menjawab dengan lisan, aku hanya mampu anggukkan kepala, kemudian semuanya hening, hanya suara air hujan yang menetes di atas dedaunan, Tak lama kemudian hujan berhenti dan tampak warna-warna indah di langit.
“itu pelangi” telunjuk Kalam mengacung pada sebuah Garis melengkung berwarna.
“oh yaaa, entah mengapa aku jadi suka hujan” pandanganku masih tertuju pada pelangi.
“ya berhasil dong aku” ia menatapku tanjam namun mataku tetap tertuju pada pelangi.
“itu berkat kau, yang menghapus lukaku di masa lalu, dan berkat Hujan pelangi mewarnai langit bukan” aku manatap Wajahnya, terlukis sebuah senyuman yang mampu berulang kali membuat ku Hanyut.
“jadi kau tak akan benci hujan lagi kan” kami tetap saling bertatapan
Aku pun menggeleng pelan, lalu ku genggam erat tangan Kalam.
“kamu tau gak Lam” ucapku sambil terus menatap sosok tampan ini.
Ia mengerlingkan matanya sambil mengerutkan dahinya, hingga seperti ukiran.
“aku kedinginan tau…”
“ohhh dasar” ia mencubit pipiku kecil.
“sakit tau” ku balas mencubit perutnya.
Ia berlari menjauh sambil tergelak.
“mau kemana Lam”
“beli minuman hangat, tunggu sebentar yaaa Say”
Suasana pun menjadi hening, ku tatap lagi pelangi di depanku yang membentuk lengkungan, sekarang aku menyukai hujan, karena tak selamanya hujan memberi kegelapan dan dibalik hujan akan memberi warna dalam kehidupan.
Terimakasih Hujan…!!!
SENYUM DIBALIK HUJAN
Tanggal dua puluh satu Januari pukul setengah tujuh malam. Anna sudah selesai berpakaian rapi. Setelah berpamitan pada ibunya, Anna meluncur menuju rumah makan herbal, tempat favorit Anna dan kawan-kawannya berkumpul, yang terletak di pinggir alun-alun kota. Semilir angin malam mengerakkan ujung jilbabnya. Anna menebar pandang. Gerobak para pedagang berjejer rapi di tepi jalan. penjual nasi goreng, mie ayam, nasi rawut dan lainnya. Beberapa orang bergerombol di depan gerobak nasi goreng. Antrean yang panjang membuat lebar jalan menjadi sempit. Pengendara motor yang ada di depan Anna berkali-kali menekan bel, meminta pembeli itu memberi jalan.
“Ada-ada saja.” Anna tersenyum sambil menggelengkan kepala. Anna sudah memarkirkan motornya di depan rumah makan. Tulisan RESTO HERBAL terpapang jelas di depan pintu masuk. Anna melangkah masuk dengan mantab.
“Halo, Erna. aku udah sampai. Kamu cepetan kesini. Eh, Lidya gimana?” Anna menelfon Erna yang ternyata belum sampai.
“Iya iya. Ni udah di parkiran. Lidya? ada ada tenang aja. Aku mau masuk. daaa”
Dua menit kemudian Erna dan Lidya sudah bergabung bersama Anna.
“Ada apa si An? Tumben ngajak kita makan makan di luar. Dapet tambahan dari bos kamu ya.” Erna memulai percakapan, penasaran. Lidya hanya menyengir. Ia mengeluarkan laptop dari ransel miliknya. “Aku sambil ngerjain tugas ya? gak papa kan?” Lidya memandang bergantian, Anna dan Erna, meminta persetujuan. Yang dipandang mengangguk pasrah. Dalam hitungan detik Lidya sudah sibuk dengan laptop dan tugasnya. Anna mendesah kecewa. Bukan ini yang Anna inginkan. Anna ingin kumpul bersama dua kawan baiknya. Bercanda, tertawa seperti yang dulu pernah mereka lakukan bersama. Pesanan belum datang. Waktu berlalu dengan rasa canggung. Erna sibuk bersms ria dengan seseorang di seberang. Anna lebih banyak diam. Anna memberanikan diri bertanya pada Lidya.
“Masih sibuk kuliah, Lid? bukankah tahun ini kamu lulus?”
“Bukan urusan kampus kok An. Urusan di luar kampus. Tahun ini aku lulus itu pun kalau skripsiku bisa cepat beres.” Lidya tertawa dari balik laptopnya. Anna ikut tertawa.
“Aku cuma bisa mendoakan semoga semuanya berjalan dengan lancar.”
“Amin. makasih ya An. Eh, ngomong-ngomong kamu masih kerja di kantor itu?” Lidya menoleh pada Anna.
“Masih. Ya dulu memang bos ku itu workaholic banget tapi itu karena pekerjaan yang menumpuk terlalu banyak dan aku sebagai karyawannya mencoba mengerti meski terkadang sikap bosku itu terlampau ekstrim dan aneh. Seiring berjalannya waktu bosku berubah. Beliau menjadi lebih ramah, meski sebenarnya memang ramah, lebih banyak senyum, suka bercanda. Aku tahu bahwa badai pasti akan berlalu.” Anna tersenyum.
Sejenak Anna teringat masa awal kerja bersama bosnya itu. Kerja 24 jam nonstop. Dimarahi tiap hari. Disalahkan atas apa yang tidak pernah dilakukan. Menguras tenaga dan kesabaran. Anna dan beberapa rekan kerjanya sudah berniat untuk keluar tapi niat mereka maju mundur. Beruntung dua bulan terakhir bos Anna berubah 180 derajat. Itu menjadi kabar menggembirakan bagi Anna dan rekan kerjanya. Tanda merdeka bagi mereka. Ucapan selamat tinggal untuk lembur dan malam-malam yang suram.
Dua orang pelayan membawa nampan pesanan mereka. Pembicaraan Anna dan Lidya terputus.
“Permisi mbak.” Pelayan pertama meletakkan tiga piring berisi nasi putih di atas meja. Disusul Satu nampan berisi ayam goreng pedas manis yang terlihat menggoda. Yang terakhir minuman untuk mereka bertiga. Jus jambu untuk Anna, Es teh untuk Lidya dan Es campur untuk Erna. Lidya menyenggol Erna yang asyik bermain handphone.
“Makan dulu. Sms siapa si?” Lidya penasaran.
“Paling mas ehem ehem.” Anna menggoda.
Erna tersenyum salah tingkah. “Apaan si. Kalian kepo banget deh.”
“Kamu masih sama dia?” Anna menggigit kentang goreng dengan santai.
“Masih. Dia tu baik banget sama aku An. Perhatian. Beruntung banget deh punya pacar kayak dia.” Erna ikut mengambil kentang. Memandang dengan wajah berbinar.
Lidya memasang ekspresi bingung, tak mengerti.
“Dia? Kamu sudah punya pacar Er?” Lidya penasaran, matanya kembali memandang laptopnya.
“Ya gitu lah, Namanya juga anak muda. Sudahlah kita makan dulu keburu dingin. Ayo Lid. Kerjaannya ditinggal dulu. Gak akan kemana-mana juga kan.”
Lidya menutup laptopnya dan segera meraih piring nasinya.
“Kalau perlu iket aja pake tali.” Erna tertawa, disusul tawa Anna dan Lidya. Suasana menjadi lebih nyaman. Rasa canggung perlahan memudar.
“Eh, kita foto dulu yuk. ya?” Anna meletakkan gelas minumannya. Nasi Anna sudah habis lebih dulu. Erna masih asyik dengan ayam miliknya. Sedangkan Lidya dengan wajah tenang memandang Anna.
“Gimana? Kalian mau kan?”
“Buat apa An?” Tanya Lidya
“Buat kenang-kenangan. Kita kan udah lama gak foto bareng. Aku janji ini yang terakhir. Ya?”
“Ok lah” Lidya dan Erna menjawab berbarengan.
Malam semakin larut namun kesibukan masih belum beranjak dari kota. Masih tampak kendaraan yang berlalu lalang. Para pedagang kaki lima masih setia melayani pembeli.
“Gimana tadi acaranya An?” bu Sinta, ibu Anna menyapa saat Anna keluar dari kamar mandi selesai menggosok gigi.
“Seru lah bu. Sudah lama aku gak kumpul bareng mereka. Rasa rindu terobati. hehehe. Anna tidur dulu ya.”
Ibu Anna tersenyum. Ikut senang.
Hari yang melelahkan. Anna membaringkan tubuhnya yang letih di atas sofa ruang tamu. Rumah sepi. Hanya gerak jarum jam yang terdengar. Pukul lima sore. Handphone Anna bergetar. Anna meraba tas mencari handphonenya. Sms dari Erna.
An, ntar malem kamu sibuk gak? Jalan yuk. Erna
Cepat Anna mengirim balasan.
Q gak sibuk. Ok.
Langit malam meriah dengan kelap kelip bintang. Semakin semarak dengan lampu taman kota dan kesibukan orang-orang. Beberapa orang bergerombol di pinggir taman kota, tertawa dan bercanda dengan temannya. Anna melangkah mantap menuju tempat tujuan. Handphone Anna bergetar untuk kesekian kalinya. Pukul tujuh malam, Anna sudah terlambat dari janji dengan Erna. Motor Anna mendarat mulus di parkiran warung makan sederhana. Anna berlari kecil ke dalam rumah makan.
“Maaf Er, aku terlambat. Maaf ya.” Anna duduk di depan Erna. Erna memasang wajah manyun.
“Er, kok diem aja. kamu marah? Maaf maaf. Ceritanya jadi apa gak ni?”
Erna menghela nafas pelan, “Aku baru putus sama Hasan. Aku shock. Gak percaya. Padahal selama ini kami baik-baik aja. Tadi siang dia menemuiku dan mengatakan dia…” kalimat Erna menggantung di langit-langit warung makan. Lengang di antara mereka. Mata Erna berkaca, segera airmata membasahi kedua pipi Erna.
Anna meraih tisu dan memberikannya pada Erna.
“Kamu sudah tanyakan alasannya?”
“Sudah Ann. Tapi dia gak mau menjelaskan. Entahlah. Aku tidak mengerti. Dia sudah berubah.”
“Kalian punya masalah sebelumnya? Tidak mungkin Hasan memutuskan hubungan tanpa alasan yang jelas.”
“Beberapa hari sebelumnya memang kami sempat bertengkar. Aku marah padanya. Belakangan dia susah sekali dihubungi. Disms tidak pernah dibalas apalagi kalau aku telfon, tak pernah sekali pun diangkat. Aku nekat masuk ruangan kelasnya, dan dia hanya bilang kalau dia sedang banyak tugas tidak ingin diganggu. Dia balik marah padaku padahal sebelumnya tidak pernah sekali pun dia marah padaku. Aku paham dan mengerti kalau dia ada banyak tugas, tapi tidak bisakah dia memberi kabar. Sekadar sms.” Erna menyeka airmata yang makin deras.
“Sabar Er. Mungkin Hasan memang tidak ingin diganggu.”
“Aku ingin minta bantuannya Ann. Dia dulu selalu membantuku tapi sekarang dia cuek gak peduli.”
“Kamu seharusnya bisa mengerti dia Er. Dia juga kan ada banyak tugas yang mungkin harus segera ia selesaikan. Kamu datang minta bantuannya. Itu memicu amarahnya. Wajar jika dia marah.”
Erna menatap Anna tajam. Yang ditatap bingung. Apa aku salah bicara, pikir Anna.
“Kamu tidak mengerti Ann. Kamu tidak merasakan apa yang aku rasakan jadi mudah saja kamu bicara seperti itu.” Erna meraih tasnya dan pergi meninggalkan Anna yang masih bingung.
Anna mengejar Erna. Erna sudah menghidupkan mesin motornya, dalam sekejap menghilang di tengah lalu lintas malam yang ramai. Anna segera menghidupkan motornya. Terburu-buru mengenakan helm.
“Erna. Erna. Tunggu Er.” Anna berteriak memanggil nama Erna, tapi Erna tidak sedikit menoleh. Anna menyusul mengejar Erna yang menghilang di pertigaan. Jalanan kota padat lancar. Sepasang muda-mudi berboncengan mesra dan saling mengucapkan kalimat gombal saat Anna menyalip. Erna seratus meter di depan Anna. Anna menambah laju kecepatan motornya. Terus berdoa agar Erna menghentikan kendaraan dan menyelesaikan salah paham di antara mereka. Sial, tiba-tiba sebuah motor menyalip. Motor itu menyenggol sepeda motor Anna. Anna terkejut dan tidak bisa mengendalikan laju motornya hingga akhirnya motor Anna menabrak pohon di tepi jalan. Anna terlempar jauh dari motornya. Pengendara yang menyenggol Anna kabur meninggalkan Anna yang terkapar tak berdaya di tepi jalan. Dengan sedikit kesadaran yang masih tersisa, Anna mencoba bangkit namun sedetik kemudian roboh.
Ruang tunggu rumah sakit lengang. Ibu Anna berdiri cemas. Berkali-kali mengintip Anna yang masih diperiksa dokter. Lidya duduk dengan cemas. Ia masih berusaha menghubungi Erna memberi kabar bahwa Anna kecelakaan.
“Er, angkat dong Er. Ayo.” Lidya menggerutu sendiri. Itu untuk kesekian kalinya ia menghubungi Erna tapi yang menjawab operator telfon. Lidya menyerah. Ia memasukkan handphonenya ke dalam tas. Saat itu dokter yang memeriksa Anna keluar ruangan.
“Bagaimana dok? Bagaimana keadaan putri saya dokter?” Ibu Anna meluncurkan pertanyaan saat dokter keluar ruangan. Dokter berusaha tersenyum ramah pada ibu Anna.
“Kondisi putri ibu sangat krisis. Putri ibu kehilangan banyak darah. Harus segera dilakukan transfusi darah untuk mencegah kemungkinan yang lebih buruk. Transfusi darah baru bisa dilakukan besok pagi karena stok darah untuk putri ibu sedang kosong. Ibu banyak berdoa memohon pada Tuhan agar putri ibu bisa melewati masa kritisnya. Saya permisi.” Dokter melangkah meninggalkan Ibu Anna. Lidya mengangguk saat dokter melewatinya.
“Yang sabar ya bu dhe.” Lidya memegang pundak ibu Anna yang bergetar saat melihat Anna terbaring lemah. Wajah Anna pucat. Kepala Anna diperban. Ada beberapa luka lecet di lengan Anna. Anna terlihat damai seperti sedang mengalami tidur panjang seperti seorang putri yang terkena kutukan sang penyihir jahat dan menunggu kedatangan seorang pangeran yang akan membangunkannya. Meski wajahnya pucat, senyum Anna masih terkembang tipis di bibir indahnya. Airmata Ibu Anna semakin deras. Matanya terus menatap putrinya itu. Waktu berjalan teramat cepat. Langit menjadi gelap. Siang telah berubah menjadi malam.
“Sudah malam bu dhe. Lebih baik bu dhe tidur. Biar saya yang menjaga Anna.” Lidya memberi usul.
“Bu dhe belum ngantuk. Bu dhe mau salat dulu, bu dhe belum salat isya’. Kamu bawa mukena Lid?.” Ibu Anna bertanya.
Lidya mengambil mukena dari dalam tas dan menyerahkannya pada Ibu Anna.
Ibu Anna bersujud dengan takzim dan khusyuk. Bulir bulir airmata jatuh di atas sajadah. Doa demi doa terpanjatkan pada Tuhan Pemilik Semesta Alam. Sejenak kedamaian menyusup ke dalam hati. Lidya yang belum bisa tidur mendengarkan detail kalimat doa ibu Anna. Betapa besar kasih sayang seorang ibu. Ibu yang mengandung, melahirkan, merawat dan mendidik anak-anaknya tanpa kenal lelah. Berapa banyak yang anak telah berikan kepada ibu tetap tidak akan sepadan dengan yang telah ibu berikan pada anaknya. Benar jika kasih ibu sepanjang masa, sedangkan kasih anak sepanjang jalan.
Dengan hati-hati Lidya meraih handphone di dalam tasnya. Mencoba menghubungi Erna lagi. Lidya mengirim sms mengabarkan Anna masuk rumah sakit. Malam semakin larut. Ruangan lengang. Lidya sudah tertidur satu jam yang lalu setelah mengirim sms kepada Erna. Ibu Anna tertidur di samping ranjang Anna.
Keesokan harinya. Pukul enam pagi. Erna berlari lari kecil sepanjang lorong rumah sakit. Bertanya dimana Anna dirawat. Anna melihat Lidya dan ibu Anna menunggu di ruang tunggu. Wajah mereka menandakan kabar yang tidak baik.
“Bu dhe, maaf bu dhe Erna baru bisa datang. Bagaimana keadaan Anna bu dhe?” Erna menyalami Ibu Anna.
Ibu Anna hanya menggeleng, enggan berbicara. Wajahnya tampak sangat letih.
“Satu jam yang lalu tubuh Anna mengejang. Kami tidak tahu kenapa. Dokter datang dan meminta kami keluar ruangan.” Lidya angkat bicara. Mata Erna berkaca hampir saja airmatanya tumpah. Erna mengintip dari balik jendela. Dokter tampak sibuk memeriksa Anna. Wajah Anna semakin pucat. Namun senyum tipis itu masih terkembang. Erna duduk tertunduk di sebelah Lidya.
“Ini semua salahku.” Suara Erna bergetar.
“Apa? kamu bilang apa Er?” Lidya menoleh.
“Ini semua salahku Lid. Kemarin aku marah pada Anna dan aku meninggalkannya begitu saja di warung makan itu. Anna berusaha mengejarku tapi aku tidak mempedulikannya. Kecelakaan ini terjadi karena aku Lid.” Erna memaki dirinya sendiri.
“Ini semua kehendak Tuhan, Er. Terlepas ini salah siapa. Dari kejadian ini semoga kita bisa menjadi teman yang lebih saling mengerti dan memahami satu dengan yang lain. Membuang semua ego diri. Kita berdoa saja agar Anna bisa melewati masa kritisnya dan bisa kembali berkumpul bersama kita.” Lidya merangkul pundak kawan baiknya itu, menenangkan. Erna, Lidya dan ibu Anna tiada henti berdoa, memohon agar Anna diberi kesembuhan. Dzikir tak pernah putus dari bibir mereka.
Waktu berlalu bagai siput berjalan. Sudah lebih dari satu jam mereka menunggu namun belum ada tanda-tanda Anna akan sembuh setidaknya bangun dari tidur panjangnya. jarum jam menunjuk angka sebelas dan sebentar lagi pukul delapan, saat itulah dokter keluar dari ruangan Anna. Tak ada senyum yang kemarin sempat dilihat Lidya dan ibu Anna. Wajah itu mendesah pelan saat ibu Anna, Lidya dan Erna mendekat.
“Bagaimana dokter?” ibu Anna menguatkan diri bertanya.
“Putri ibu sudah siuman tapi saya minta jangan terlalu banyak diajak bicara karena kondisinya masih sangat lemah. Saya permisi.” Dokter berpamitan.
Mata itu terlihat sangat sayu. Seolah cahaya kehidupan tercabut paksa dari dirinya. Anna tersenyum pada ibu, Lidya dan Erna saat mereka masuk ruangan setelah izinkan dokter.
“Anna tidak apa-apa bu.” Suara itu terdengar sangat rapuh. Senyum tipisnya masih terkembang. Ibu Anna menangis tanpa suara. Tak sanggup. Lidya dan Erna berdiri mematung.
“Erna, maafkan aku. Mungkin…,” Anna menarik nafas panjang, “perkataanku kemarin menyakitimu.” Erna mendekat dan mendekap Anna erat.
“Tidak Ann. Seharusnya aku yang minta maaf. Tidak seharusnya aku berkata seperti itu.”
“Sudahlah Er.” Lidya menengahi.
“Kita… lupakan saja… masalah itu.” Anna menjawab patah-patah.
“Cepat sembuh ya nak. Jangan tinggalkan ibu sendiri. Ibu tidak mau kamu pergi. Lebih baik ibu saja yang pergi.” Ibu Anna tersedu.
“Jangan bilang begitu bu. Ibu sendiri kan yang selalu bilang hidup dan mati seseorang ada di tangan Tuhan.” Nafas Anna semakin berat. Ibu Anna, Lidya dan Erna panik. Lidya berlari menuju pintu dan berteriak memanggil dokter. Tak ada yang datang.
“Bu dhe saya cari dokter dulu bu dhe. Anna kamu harus bertahan.” Lidya menatap Anna. Ibu Anna dan Erna bingung harus berbuat apa. Patah-patah Anna mengucapkan dua kalimat syahadat. Ibu Anna membimbing dengan hati teriris. Di ujung kalimat mata Anna perlahan tertutup. Tangis Ibu Anna dan Erna seketika pecah.
“Anna bangun. Jangan tinggalkan ibu. Anna bangun nak.”
“Anna bangun. Aku mohon Ann. Buka matamu Ann.”
Dari arah pintu muncul Dokter dan Lidya.
Ibu Anna menoleh, “Dokter tolong selamatkan anak saya dok. Tolong.” Ibu Anna memohon dengan bersimbah airmata.
“Saya periksa dulu bu.” Dokter meminta Ibu Anna, Lidya dan Erna keluar ruangan.
Lima menit kemudian.
“Maaf bu. Putri ibu sudah tidak ada. Detak jantungnya berhenti sejak empat menit yang lalu. Saya sudah berusaha semampu saya. Maaf. Ibu yang sabar. Saya permisi.” Dokter mencoba menghibur.
“Bu dhe, yang sabar bu dhe.” Lidya dan Erna membimbing Ibu Anna duduk. Lorong rumah sakit lengang. Mereka menatap perih jasad Anna yang telah tertutup kain putih.
Langit di atas sana hitam pekat. Hujan sebentar lagi datang. Titik titik air hujan berubah menjadi deras dalam hitungan menit. Menambah suasana yang pedih menjadi lebih pedih. Para tetangga, teman sekolah, rekan kerja, bos Anna datang mengucapkan belasungkawa pada ibu Anna. Pemakaman mulai sepi. Tinggal Lidya, Erna dan Ibu Anna.
“Bu dhe, kita pulang yuk. Hujannya semakin deras bu dhe. Nanti bu dhe sakit.” Lidya membimbing ibu Anna melangkah. Erna mengikuti dari belakang. Erna mendongak, memandang langit yang berwarna abu-abu.
Meski langit menjadi gelap, hujan turun dengan derasnya, aku masih bisa melihat senyum indahmu, teman. Sebuah senyum yang tersembunyi di balik hujan.
“Erna, ayo. Hujannya makin besar. Kalau kamu pingsan aku gak mau gendong lho ya.” Lidya berseru dari tepi jalan raya. Membuyarkan lamunan Erna.
“Eh? Jahat banget sie. Tunggu.” Erna berlari-lari menghindari hujan.
Anna kau akan menjadi teman terbaikku, selamanya.
BEST FRIEND
“Aku melihat Mas Aldi menunggangi kuda putih. Ia datang menghampiriku, Fit. Mengajakku berkeliling. So sweet banget.” Dengan wajah sumringah Siska menceritakan mimpi indahnya semalam. Mimpi indah bersama sang pujaan hati, Mas Aldi. Matanya melayang menatap langit biru. Kalau di film kartun mungkin akan ada balon berbentuk hati yang terbang mengelilingi dirinya. Aku hanya geleng-geleng kepala. Entah sudah berapa kali Siska menceritakan mimpinya itu padaku.
Mas Aldi itu tetangga dekatku. Rumahnya hanya berjarak dua gang denganku. Orangnya baik, sopan, juga rajin jama’ah di Masjid desa. Aku sering berpapasan dengannya saat jama’ah di Masjid. meski kami satu desa tapi aku jarang ngobrol dengannya. Dan Siska mengenal Mas Aldi secara tak sengaja. Waktu itu ada pengajian di Masjid desaku. Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Aku mengajaknya menghadiri pengajian karena esok hari libur kerja.
“Itu siapa Fit? Ganteng banget.” Siska menunjuk Mas Aldi yang waktu itu juga menjadi panitia acara pengajian.
“Namanya Mas Aldi.”
“Udah punya pacar belum?”
“Emmm, kasih tahu gak ya?” aku tersenyum menggoda,
“Kasih tahu dong Fit. Please.”
“Setahuku si belum. Kenapa memangnya?”
Siska hanya tersenyum memandangi Mas Aldi yang sedang sibuk menata bangku untuk bapak-bapak. Sejak hari itu Siska jadi sering tanya soal Mas Aldi padaku. Hari ulang tahunnya, makanan kesukaannya, kegeamarannya, warna kesukaannya, dan segala hal yang berkaitan dengan pujaan hatinya, Mas Aldi.
“Mana aku tahu Sis. Kamu tanya langsung aja sama orangnya.” Jawabku.
Aku benar-benar tidak habis pikir. Apa Siska benar-benar suka sama Mas Aldi? Entahlah.
Tanpa sepengetahuanku Siska menemui Mas Aldi. Entah kapan dan dimana aku tidak tahu.
“Ternyata dia itu guru, Fit.” Siska bercerita padaku di sela-sela jam istirahat kerja.
“Emmm.” jawabku singkat.
“Orangnya juga ramah.”
“Emm,” Aku menggigit bakwan goreng.
“Perfect banget ya, Fit. Mungkin gak ya aku berjodoh sama Mas Aldi.”
Aku tersedak. Segera aku meraih gelas minumanku, “Apa? Tapi… mungkin saja. Berdoa pada Allah agar kalian ditakdirkan berjodoh. Tapi, inget jangan nekat. Mas Aldi gak suka sama cewek yang over.”
“Amin. Sip sip.”
Pukul delapan malam Siska datang ke rumahku. Raut mukanya tegang. Seolah hal buruk sedang menimpanya. Siska mendapat kabar kalau Mas Aldi dirawat di rumah sakit. Kecelakaan.
“Innalillahi wainnaillaihi rojiun.” Aku setengah tidak percaya.
“Fitri. Kamu apaan si. Mas Aldi kan cuma sakit gak meninggal.”
“Saat saudara kita ada yang tertimpa musibah entah itu kecelakaan ataupun meninggal dunia, kita sebagai muslim yang baik harus mengucapkan, “innalillahi wainnaillaihi rojiun. Karena semua yang ada di dunia ini adalah milik Allah dan akan kembali pada Allah.”
“Oh, begitu. Innalillahi wainnaillaihi rojiun.” Siska mengikuti perkataanku.
“Fit, temenin aku jenguk Mas Aldi ya. Please…”
“Sekarang?” Aku bertanya,
Siska mengangguk mantab, “please”
Setelah membeli buah-buahan untuk Mas Aldi, kami berdua meluncur Ke Rumah Sakit Hasanudin, tempat Mas Aldi dirawat. Mas Aldi sedang istirahat saat kami datang. Ibu Mas Aldi menyambut kami dengan ramah. Siska mendekati tempat tidur Mas Aldi. Dipandanginya orang yang ia sayangi itu lekat-lekat. Aku jadi miris. Semoga kalian benar berjodoh ya Sis. Amin.
Langit senja selalu menjadi pemandangan yang menyenangkan bagiku. Rasa penat, lelah dan suntukku hilang dalam sekejap. Biasanya aku menikmati langit senja bersama Siska namun tidak untuk hari ini. Siska izin libur kerja selama 3 hari. Aneh memang karena biasanya aku dan Siska selalu bersama dan sekarang tidak ada Siska rasanya…
Seseorang tiba-tiba membunyikan bel dari arah belakangku.
“Huh, siapa sich” Gerutuku dalam hati. Pengendara sepeda motor itu mendekat.
“Hai, Fit. Sendirian saja?” Pengendara motor itu menyapaku. Dia Mas Aldi. Waduh, kenapa disaat seperti tidak ada Siska.
“Eh, iya Mas. Siska hari ini tidak masuk kerja jadinya aku pulang sendirian.”
“Oh, gitu. Temanmu itu lucu ya. Orangnya ceria.” Mas Aldi senyum-senyum.
Jadilah kami berdua pulang bersama. Ya, rumah kami juga kan searah. Entah kebetulan atau bagaimana tiga hari ini aku sering berpapasan dengan Mas Aldi. Kebersamaan yang cukup menyenangkan. Mas Aldi sering bercerita tentang kegiatan di Masjid desa kami.
“Ikutlah, Fit. Tidak apa-apa. Ajak juga temanmu si Siska itu.” Mas Aldi membujukku. Aku hanya membalas dengan tersenyum.
Hari minggu. Mentari di atas sana memancarkan cahaya dengan penuh suka cita. Beberapa kupu-kupu terbang dan sesekali hinggap pada bunga-bunga yang mulai bermekaran. Terdengar suara kokok ayam tetangga yang sedang sibuk mencari makan. Ramai sekali. Seharusnya aku merasa damai. Nyatanya tidak. Pukul tujuh pagi saat aku sedang melahap menu sarapanku, Siska datang ke rumahku. Wajahnya merah padam. Tak kulihat senyum manja miliknya.
“Munafik kamu Fit. Tega kamu.” Dengan emosi meluap Siska memarahiku.
Aku diam tak mengerti. Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba Siska marah padaku.
“Aku tidak menyangka, Fit. Kamu benar-benar tega sama aku.”
“Ada apa Sis? Aku tidak mengerti?”
“Alah, Jangan pura-pura tidak tahu kamu, Fit. Saat aku tidak masuk kerja kemarin kamu sering jalan bareng sama Mas Aldi. Kamu suka sama Mas Aldi? Kamu tahu kan kalau aku suka sama Mas Aldi. Tapi kenapa kamu tega sama aku, Fit?” Siska menyeka airmatanya.
“Aku… Aku tidak ada apa-apa sama Mas Aldi Sis. Kami tidak sengaja bertemu dan kami pulang bareng. Itu saja. Kamu salah paham Sis. Aku tidak punya perasaan apa-apa sama Mas Aldi. Percaya sama aku, Sis.”
Siska tidak percaya dengan semua kata-kataku. Ia menganggap aku telah merebut Mas Aldi darinya. Ia menganggap aku telah mengkhianati dirinya dan persahabatan kami.
Selama satu minggu ini Siska susah sekali dihubungi. Setiap kali aku telefon tak pernah sekalipun diangkat. Di tempat kerja pun Siska lebih memilih menghindar. Hatiku terasa hancur. Persahabatan yang telah aku bina sejak kami berdua masih duduk di bangku SMP harus pecah dan terancam hancur hanya gara-gara cowok. Siska, kenapa kamu tidak percaya padaku. Tak pernah sedikit pun aku berniat untuk merebut Mas Aldi darimu. Aku tidak mungkin merebut kebahagiaan sahabatku sendiri. Tapi kenapa?
Pikiranku kacau. Semua terlihat hitam dan gelap. Kurasakan hujan akan segera datang.
Seseorang mengetuk pintu kamarku. Dengan malas aku membukanya, ternyata Mas Ferdi.
“Fit, ikut aku yuk.”
“Malas”
“Ayolah, Fit. Daripada kamu di rumah tidak ada kerjaan.”
“Malas ah. Siang-siang begini mau kemana sich? Enakan juga tidur.”
“Sebentar doang. Cuma mau nganterin pesanan undangan. Ayolah Fit. Masak kamu tega ngelihat kakakmu ini bawa barang sebanyak itu.” Mas Ferdi menunjukkan bungkusan plastik yang ukurannya lumayan besar padaku. Akhirnya aku mau menemani Mas Ferdi ke rumah temannya itu. Udara di luar benar-benar sangat panas. Kuraih jaket yang tergantung di dekat almari. Jalanan sepi. Hanya dua tiga kendaraan yang berlalu lalang. Mereka mungkin lebih senang berdiam di dalam rumah menikmati segelas es buah daripada harus berpanas-panasan seperti ini. Saat itu aku bertemu Siska, Ia baru saja keluar dari supermarket. Siska melajukan sepeda motornya sangat cepat. Aku tak sempat untuk menyapanya.
“Fit, Itu Siska kan. Kok tumben. Kalian marahan?” Mas Ferdi berkata setengah berbisik padaku. Aku diam. Mataku terus memandang punggung Siska yang semakin lama menghilang di ujung belokan. Mas Ferdi membelokkan kendaraan ke kiri. Bukankah ini gang ke rumah Mas Aldi? Aku tersadar. Aku menjadi penasaran siapa teman Mas Ferdi yang memesan surat undangan yang sedari tadi aku pegang. Aku membuka bungkusan plastik dengan perasaan tak menentu. Undangan pernikahan Mas Aldi. Jantungku terasa berhenti berdetak. Tiga hari lagi Mas Aldi akan menikah. Aku terpaku menatap undangan berwarna coklat yang ada di tanganku. Seketika aku teringat Siska. Apakah dia sudah tahu kalau Mas Aldi akan menikah? Segera aku ambil handphone dan dengan cepat jemariku menulis pesan singkat untuk Siska. Namun gerak tanganku terhenti. Aku ragu, apakah Siska akan percaya? Siska masih marah padaku mana mungkin ia akan percaya. Pesan singkat itu mengambang di layar handphoneku.
Hari yang cerah. Hari ini pernikahan Mas Aldi. Para tamu undangan duduk memenuhi meja tamu sambil menikmati hidangan yang sudah disediakan. Mas Aldi kelihatan sangat berbeda. Rapi dan tampan, tak heran jika Siska begitu mengidamkan Mas Aldi. Senyum bahagia terpancar dari wajahnya. Seorang perempuan muda berdiri di samping Mas Aldi. Perempuan itu kelihatan sangat cantik dengan kebaya putih. Senyum bahagia juga terpancar dari wajah cantiknya. Ia Mbak Arini, seorang yang aku kenal sangat baik dan sopan. Yang sekarang telah resmi menjadi isteri mas Aldi.
“Fit, sebelah sana belum dibersihin.” Mas Ferdi menyenggol lenganku membuyarkan aktifitas melamunku. Aku segera menuju meja yang ditunjuk kakakku itu. Matahari mulai condong ke barat. Namun para tamu masih banyak yang datang. Tubuhku mulai merasa letih. Jilbab panjangku berayun ditiup angin yang lewat. Sejuk rasanya. Aku teringat Siska. Bagaimana dia sekarang? Sudahkah dia tahu Mas Aldi hari ini menikah? Semua pertanyaan itu berjejal di kepalaku. Tiba-tiba sebuah nada pesan berdenging dari handphoneku. Satu sms masuk.
“Fitri. kamu dimana? Aku ingin bicara. Aku sekarang di teras rumahmu.”
Sms dari Siska. Ada apa lagi? Aku bertanya pada diriku sendiri.
Aku memasuki halaman rumah. Siska berjalan mendekatiku. Airmata tumpah dari pelupuk matanya. Tanpa kuduga Siska memelukku.
“Fit, maafkan aku ya. Aku sudah marah-marah sama kamu. Aku sudah menuduh kamu. Sudah menganggap kamu pengkhianat. Maafkan aku ya, Fit”
“Ya, Sis. aku sudah memaafkan kamu kok. Yang lalu biarlah berlalu. Semoga kita bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi. Tapi, kamu jangan cemburu berlebihan seperti kemarin ya, Sis.” Aku tersenyum pada sahabatku itu
“Siap, bos. Kamu memang best friend aku Fit. Meski aku sudah menyakiti kamu tapi kamu masih mau menerima aku. Kamu teman aku yang paliiiing baik deh.” Siska mencubit kedua pipiku.
“Lebay deh. Sudahlah. Manusia juga kan bisa khilaf. Tapi jangan diulangi lagi lho ya.”
Siska mengacungkan dua jempol padaku.
Langit senja tersenyum bersama kami. Semilir angin menari-nari di antara dedaunan. Menerbangkan ujung jilbab biruku.
Terimakasih ya Rabb, Engkau telah membuka hati Siska dan kami bisa bersama kembali. Jagalah persahabatan kami, ya Rabb. Jauhkan dari permusuhan dan perselisihan. Agar kami bisa bersahabat hingga kami tua nanti. Amin.
MATA PELANGI
Gadis kecil itu duduk di teras rumah seorang diri. Tidak ada ayah ataupun nenek yang menemaninya kali ini. Hujan masih turun membasahi halaman rumah. Taman. Bunga. Pohon-pohon. Ayunan. Semua basah. Gadis kecil itu mengayunkan kaki mungilnya bermain air hujan. Sesekali ia tersenyum kecil merasakan dinginnya air hujan.
“Senja ayo masuk. Hujan.” Seorang ibu setengah baya keluar dari dalam rumah.
“Tapi, nek Senja pengen lihat pelangi.” Gadis kecil bernama Senja itu masih bermain air hujan, tak menghiraukan ajakkan neneknya.
“Lihat pelanginya di dalam saja ya.”
“Gak mau. Senja pengen lihat pelangi di sini.” Senja protes.
“Ya sudah. Tapi gak boleh hujan-hujan ya.” Neneknya mengalah. Meninggalkan Senja sendiri.
Hari mulai sore. Langit menyisakan titik-titik hujan. Matahari malu-malu mengintip dari balik awan. Sebuah mobil sedan memasuki garasi rumah. Seorang laki-laki muda keluar dari dalam mobil. Ia berlari menghindari hujan menuju teras rumah. Senja tersenyum riang melihat laki-laki muda itu.
“Ayah!” Senja berlari memeluk ayahnya yang basah kuyup.
Ayahnya membalas senyum putri kecilnya itu.
“Iya sayang. Kok anak ayah di luar. Kan lagi hujan. Nanti anak ayah masuk angin.” Ayahnya memeluk senja erat.
“Enggak ayah. Senja kan kuat. Senja lagi liat pelangi, tapi… pelanginya belum datang. Apa pelangi marah sama Senja yah?” Senja mengangkat kedua tangannya kemudian memandangi langit yang mulai berwarna biru cerah. Masih ada titik hujan di sana.
“Marah sama senja? Memangnya anak ayah nakal ya?”
“Tadi siang Senja mukul Rendi yah.” Senja tertunduk, takut ayahnya akan memarahi dirinya juga seperti Bu Sinta, gurunya di sekolah.
“Anak ayah kok gitu, kayak preman aja. Memangnya kenapa Senja mukul Rendi.”
“Habis Rendi jahat banget sama Rini, teman sebangku Senja. Masak bukunya Rini dibuang-buang yah. Senja kan gak suka. Makanya Senja pukul Rendi.” Senja mengepalkan tangan kanannya dan seperti seorang petinju ia memukul udara dengan tangan mungilnya itu.
“Senja sayang. Gak boleh gitu. Walaupun orang lain jahat sama kita, kita gak boleh membalasnya dengan kejahatan juga. Kita menganggap mereka itu jahat, tapi kita berbuat seperti mereka. Lalu, apa bedanya kita dengan mereka. Senja mengerti maksud ayah?” Ayah Senja menatap mata Senja. Bola mata berwarna coklat yang indah. Bibir mungil itu hanya manyun saja.
“Pokoknya ayah gak mau denger anak ayah berantem atau mukul orang. Anak ayah kan gadis kecil yang manis, pinter dan baik bukan preman. Mereka mungkin memang salah karena menyakiti kita tapi bukan menjadi hak kita untuk membalasnya, sayang.” Ayah senja melanjutkan.
“Tapi yah… aku kan cuma mau belain Rini aja yah. Memang salah ya?” Senja protes.
Ayah senja memandangi putri kecilnya itu. Waktu begitu cepat berlalu hingga tidak terasa sekarang Senja sudah besar. Usianya memang baru menginjak lima tahun tapi cara berfikirnya terkadang seperti orang dewasa. Kepergian ibu Senja empat tahun silam mungkin akan menjadi luka terdalam bagi Ayah Senja namun ia harus tetap kuat demi Senja, buah hatinya.
“Gak salah kalau Senja mau membela Rini tapi bukan dengan cara memukul Rendi. Kan Senja bisa bilang ke bu guru.”
Senja tertunduk merasa bersalah. “Lalu Senja harus bagaimana yah?”
“Besok Senja harus minta maaf sama Rendi. OK?”
“OK deh. Maafin Senja ya yah soalnya Senja udah bikin ayah marah.”
“Iya sayang. Tapi jangan diulangi lagi ya.” Ayah senja mengelus pipi Senja dengan lembut. Senja mengangguk pasti.
Sebuah pelangi terlukis indah di langit senja. Lengkungnya jatuh di atas pepohonan yang basah. Tetesan hujan di ujung dedaunan nampak seperti kristal-kristal yang bersinar diterpa cahaya matahari.
Senja menarik lengan baju ayahnya, “Ayah lihat itu. Pelangi. Indah ya yah.” Pekik Senja. Ayah Senja hanya mengangguk setuju.
“Emmm, ayah. Apa Ibu juga ada di sana?” Senja menunjuk pelangi di atas sana. Seolah berharap ibunya juga melihatnya disini.
“Iya, sayang.” Ayah Senja menjawab datar.
“Apakah ibu juga melihat Senja?”
“Ibu melihat Senja dari balik pelangi itu. Mata pelangi.” Ayah Senja menunjuk pada pelangi yang tersenyum hangat ke arah mereka.
“Mata Pelangi? Apa itu yah?” Senja penasaran.
“Mata Ibumu seperti pelangi. Indah sekali.”
“Benarkah yah?”
Ayah Senja tersenyum, “Iya sayang. Mata pelangi ibumu ada di matamu juga Senja.” Ayah Senja membelai lembut pipi mungil Senja.
“Mata pelangi? Berarti ibu ada di balik pelangi itu ya yah?” Senja menunjuk pelangi yang melengkung indah di atas pepohonan hijau.
Ayah Senja mengangguk untuk yang kesekian kalinya.
Ayah dan anak itu terus memandangi pelangi di atas sana dan berharap orang yang mereka sayang pun melihat mereka. Merasakan juga rasa rindu yang membuncah di dalam hati mereka. Sang pelangi membalas dengan warna tubuhnya yang bersinar terang di angkasa.
Langit malam semakin gelap. Dingin menyeruak masuk ke dalam tiap sudut rumah. Senja tertidur pulas di samping neneknya. Mata mungilnya tertutup rapat dan kedua tangannya erat memeluk boneka kelinci kesayangannya. Jam di dinding kamar menunjuk pada angka sembilan. Rio, ayah senja masih terjaga di ruang kerjanya. Matanya fokus memandangi layar komputer. Jemarinya dengan lincah mengetik. Sesekali Rio menguap karena mengantuk. Jemarinya menggerakkan mouse mengklik folder bertuliskan “Cinta”. Foto-foto perempuan berjilbab muncul di layar komputer. Senyumnya merekah. Sesosok bayi mungil tertidur pulas dalam pangkuannya. Dia Febri, ibu Senja. Air bening membuyarkan pandangan Rio. Memaksa untuk tumpah. Rio menghapus air bening itu dengan punggung tanggannya.
“Waktu begitu cepat berlalu sayang hingga tanpa ku sadari, Senja, buah hati kita menjadi perempuan kecil yang cantik seperti dirimu, sayang. Aku merindukanmu. Juga Senja. Apa Kau merindukan kami? Bahagiakah kau di sana? Kami memiliki kebiasan baru, sayang. Saat rindu menyergap hati, kami memandangi pelangi di balik rintik hujan. Senja yang mengusulkan itu. Aku setuju saja. Anak itu semakin hari semakin mirip denganmu, sayang. Manjanya, senyumnya, marahnya dan matanya. Mata pelangi milikmu ada padanya. Tiap kali aku menatapnya, aku merasa kau ada di sana. kau memang akan tetap selalu ada dan hidup, di hati kami.”
“Rio, bangun Rio. Rio.” Seseorang mengetuk pintu kamar. Rio terjerembab kaget. Dengan gontai ia membuka pintu. Ibu Rio berdiri dengan gusar di depan pintu kamar.
“Rio, Senja.” Ibu paruh baya itu menunjuk-nunjuk kamar Senja.
“Senja kenapa bu?” Rio panik tapi ia berusaha tetap tenang.
“Nafasnya… sesak.” Ibu Rio terbata. Rio berlari menuju kamar Senja. Pintu kamar terbuka. Bik Sumi duduk di samping Senja. Wajahnya panik.
“Tuan, non Senja tuan.” Rio melemparkan pandang. Dilihatnya Senja mengejang. Nafasnya naik-turun. Rio mendekat. Tubuh Senja juga panas. Rio meraih handphone yang tersimpan di saku celananya. Dengan gesit ia memencet nomor, menghubungi seseorang. Beberapa detik kemudian terdengar suara laki-laki dari seberang.
“Hallo, Dok. Maaf mengganggu waktu istirahat dokter. Senja badannya panas. Nafasnya juga sesak. Apa dokter bisa datang ke rumah?”
Diam sejenak di seberang.
“Iya dok. Saya tunggu. Terima kasih.” Terputus.
Lima belas menit kemudian terdengar suara mobil memasuki halaman rumah. Rio meminta bik Sumi membuka pintu. Dokter Andi masuk ke kamar Senja kemudian. Di tangannya sebuah tas hitam mengkilat berisi berbagai peralatan kedokteran. Dengan cekatan Dokter Andi memeriksa Senja. Rio memandang bergantian, Dokter Andi dan Senja. Kegelisahan menyusup ke dalam hatinya.
Jangan kau ambil Senja Tuhan. Aku mohon. Rio berdialog pada Sang Pencipta. Memohon agar Ia mengizinkan Senja tetap bersamanya, menemani hari-harinya.
Dokter Andi mengajak Rio keluar kamar.
“Maaf pak. Kondisi Senja sangat kritis. Suhu badannya tinggi. Harus segera dibawa ke rumah sakit. Lebih cepat lebih baik.” Dokter Andi menepuk pundak Rio kemudian berpamitan pulang.
Hari ke tujuh. Rumah Sakit Kasih Ibu ruang melati. Senja masih belum sadar sejak tujuh hari yang lalu. Sejak Dokter Andi menyarankan pada Rio, Senja segera dibawa ke Rumah Sakit. Raut muka yang pucat itu menyunggingkan sedikit senyum. Hanya sedikit. Bik Sumi duduk di sebelah Senja dengan tangan menyangga kepala yang terasa berat. Letih yang sangat, mengendap di tubuhnya yang mulai menua. Langit terlihat muram. Angin dingin membawa dedaunan kering terbang tanpa arah. Meski mendung, belum ada tanda hujan akan segera turun. Rio memasuki ruangan. Bik Sumi akhirnya tertidur di samping Senja. Rio membangunkan bik Sumi.
“Bik Sum, malam ini biar saya saja yang menjaga Senja. Bik Sumi bisa istirahat di rumah.” Rio tersenyum meski sedikit dipaksakan. Bik Sumi mengangguk dan berpamitan pulang. Rio memandangi Senja yang masih terlelap dalam tidur panjangnya. Tangannya lembut mengelus rambut Senja. Setitik air meleleh di pipi Rio. Rio membiarkannya tidak berusaha menghapus airmata yang sudah membasahi kedua matanya. Mendung di luar semakin pekat. Titik-titik hujan berbarengan turun membasahi tanah, pepohonan, parkiran, tenda para pedagang kaki lima dan yang lainnya. Orang-orang berlarian mencari tempat berteduh melindungi diri dari hujan. Rio memejamkan mata. Mendengarkan nyanyian hujan yang semakin deras. Punggungnya bersandar pada kursi. Hati dan pikirannya mengembara.
Waktu melaju begitu cepat. Langit semakin gelap namun hujan belum ingin beranjak pergi. Membawa tiap jiwa tenggelam dalam mimpi. Terlihat cahaya yang sangat terang. Rio melangkahkan kaki menyusuri padang ilalang. Menoleh ke kanan ke kiri. Tak ada seorang pun. Rio tetap terus melangkah. Terdengar suara orang di bawah pohon besar yang berada tak jauh dari tempat Rio berdiri. Rio mendekat. Seorang perempuan muda sedang bermain dengan seorang gadis kecil. Mereka tampak bahagia, senyum mereka merekah. Gadis kecil itu menoleh ke arah Rio.
“Ayah.” Panggil gadis itu.
Rio mencoba mengenali wajah dan suara itu.
“Senja.” Rio berkata pelan. Gadis kecil itu sudah berdiri di depan Rio.
“Itu ibu yah.” Senja menunjuk perempuan yang tadi berdiri di bawah pohon dan sekarang berjalan mendekati mereka.
“Febri.” Rio tidak percaya dengan penglihatannya sendiri. Orang yang selalu ia rindukan, sekarang berdiri dengan senyum indah merekah. Mata pelangi itu masih tetap sama.
“Senja, kita harus pergi sekarang.” Febri meraih tangan mungil Senja. Senja menganguk, menurut.
“Daa ayah.” Senja melambaikan tangan pada ayahnya.
“Tunggu. Kalian mau kemana? Senja di sini saja. Sama Ayah. Kemari sayang.” Rio mencegah.
“Tidak Rio. Senja ikut bersamaku. Jaga dirimu baik-baik. Selamat tinggal.” Febri tersenyum.
“Ayah jangan sedih. Senja sama ibu gak kemana-mana kok. Ayah bisa lihat senja juga ibu di balik pelangi indah itu. Daaa ayah.” Senja menunjuk pelangi yang melengkung indah di atas langit biru yang cerah. Rio terus memanggil Senja memintanya tinggal bersamanya namun mereka telah hilang bersama pudarnya cahaya indah pelangi. Rio tersadar. Keringat dingin memenuhi seluruh tubuhnya. Pukul dua dini hari.
“Ayah, dingin ayah. Dingin. Dingin. Dingin yah.” Wajah Senja pucat pasi. Rio dengan sigap menyelimuti tubuh Senja.
“Masih dingin sayang?” Rio mulai cemas. Senja mengangguk pelan. Rio mengeluarkan selimut yang tadi sempat dia ambil dari rumah. Senja masih menggigil. Tubuhnya panas tinggi. Rio memanggil dokter Andi.
“Tolong dok. Selamatkan putri saya dok.”
“Bapak tenang dulu. Lebih baik bapak menunggu di luar. Biar saya periksa Senja dulu.”
Satu jam yang sangat mencekik. Rio mondar-mandir di ruang tunggu rumah sakit. Berkali-kali kepalanya menengok ke dalam. Dokter Andi masih sibuk memeriksa. Udara menjadi sangat dingin. Seakan menyergap semua harapan dan kebahagiaan. Dokter Andi keluar dan menutup pintu pelan.
“Bagaimana dok?” Rio semakin cemas melihat ekspresi wajah dokter Andi saat keluar dari ruangan.
“Mohon maaf pak. Senja tidak tertolong. Saya minta maaf. Saya sudah berusaha semampu saya. Semoga bapak bisa tabah menghadapi kenyataan ini.” Dokter Andi menepuk pundak Rio dan berlalu pergi. Kaki Rio tiba-tiba saja terasa hilang. Tubuhnya tumbang terjatuh ke lantai. Tangisnya pecah. Hatinya menolak kenyataan bahwa Senja telah pergi. Tertatih Rio berusaha bangkit. Matanya nanar memandang Senja yang terbujur kaku di atas ranjang. Kedua mata itu tertutup rapat. Rio memanggil Senja berharap Senja akan menjawab dan memanggil namanya. Namun Senja tetap diam tak bergerak.
Hujan baru saja berhenti. Menyisakan titik hujan di ujung dedaunan. Langit berubah biru cerah. Pemakaman masih ramai pelayat. Nenek Senja masih menangis saat seorang tetangga menyalami. Rio jongkok terdiam di samping pusara Senja. Tak dihiraukan para tetangga yang ingin mengajaknya bersalaman. Rio masih bertahan saat kerumunan para pelayat sudah pulang. Kenangan bersama Senja datang tiba-tiba seperti video yang sedang diputar. Terkadang Rio tertawa kecil, terkadang ia menangis. Rio mengangkat kepala. Menghapus sisa airmatanya. Di ujung sana, sebuah pelangi muncul. warna merah, kuning, hijau terlihat sangat indah di langit yang berwarna biru cerah. Rio teringat kalimat Senja semalam, Ayah bisa lihat senja juga ibu di balik pelangi indah itu. Kalimat terakhir Senja yang akan selalu Rio ingat.
Hidup harus terus berlanjut, seberapa menyakitkan aku kehilangan Febri dan Senja. Biarkan waktu yang menjadi obat atas semua luka dan pedih ini, Mereka akan selalu hidup di dalam hatiku, Rio berucap mantap, menguatkan diri. Pelangi di atas sana masih tercipta sempurna saat Rio melangkah meninggalkan pemakaman. Tetesan hujan yang diam di atas dedaunan tampak berkilauan ditimpa cahaya matahari.
PERTEMUAN SINGKAT
Angin malam menyapa tidurku, aku terlelap akan sapaannya. Aku merasakan perjalanan yang begitu jauh entah dimana, aku sendiri tidak mengetahui keberadaan jiwaku yang sebenarnya.
Angin menghembuskan kerudungku dan belaiannya memberikan kesejukan, aku berjalan di tengah rimbunan pohon yang begitu indah yang menggugurkan daunnya seperti di musim gugur.
Aku terus berjalan di tengah indahnya musim gugur, aku berputar-putar karena merasa bahagia berada di tempat ini. Tapi aku terhenti ketika seseorang melihatku sambil tersenyum. Aku serentak kaget melihat sosok dirinya.
“Ayah…” aku berlari menghampirinya. dia tidak memalingkan lagi mukanya kepadaku dia malah berjalan lurus dan tak memandangku lagi. Aku berusaha untuk mengejarnya agar bisa berada di pangkuannya. tapi aku mendengar suara ibu yang terasa mendekat di telingaku.
“Mayla, bangun, kenapa kamu, bangun nak” sambil menggoyang-goyangkan badanku yang terbaring di atas kasur.
“Ayah…” teriakku sambil terbangun dari posisi tidur.
“Kenapa la, istigfar.. kenapa kamu, kamu mimpi ketemu ayah lagi?” tanya ibu panik.
“i..i..iya bu, aku ketemu ayah bu.. aku kangen sama Ayah bu”
“La, kamu harus sabar, kamu harus terima takdir Allah, ingat la, di dunia ini tidak ada yang kekal, semua manusia akan mengalami maut, kamu ingat itu”
“Tapi.. bu..”
“Sudah, sekarang kamu ke wc, ambil air wudhu, shalat Tahajud, ngaji Yasin khususkan untuk Ayah dan adikmu”
“Iya ibu..”
Aku pergi ke wc untuk mengambil air wudhu, setelah itu aku melaksanakan shalat Tahajud dan berdoa. aku ambil al-Qur’an yang terletak di meja belajarku. Aku duduk di amparan sajadah yang lembut. Aku berdoa. “Ya Allah aku hadiahkan membaca surat Yasin ini untuk Ayah dan adikku yang berada di sisimu. Jauhkan Ayah dan adikku dari siksa kubur yang pahit dan kejam. Ampunilah dosa Ayahku selama di dunia, sesungguhnya dia Ayah yang baik yang senantiasa bertanggung jawab untuk menafkahi keluarganya serta memberikan tarbiah untukku, semoga adikku bisa membantu memberikan syafaat untuk keluargaku di yaumil akhir. Amiiinn…” doaku dalam hati.
Aku buka al-qur’an dan aku baca surat Yasin. Aku hayati tiap kata dari al-qur’an, sungguh menyentuh qolbi, tak terasa air mataku menetes. Aku teringat bayangan masa lalu ketika adikku baru lahir langsung memenuhi panggilan dari Allah dan Ayahku yang terkena gejala ginjal telah memenuhi panggilannya. Begitu pahit ketika aku ingat kenangan itu.
Setelah selesai membaca surat yasin, aku tutup al-qur’an ku dan aku simpan di meja belajarku. Aku bangkit dari posisi dudukku menuju tempat tidurku. Aku lelah dengan tangisan ini. Tak terasa aku terlelap bersama tangisan ini.
Aku berjalan di tengah keramaian kota, aku berjalan sendiri, aku sendiri berjalan tanpa tujuan. Entah kemana aku harus melangkahkan kakiku. Aku punya inisiatif untuk pergi ke taman kota Tangerang. Aku ingin duduk di bawah pohon, sepertinya terasa sejuk untuk menenangkan diriku di bawah rimbunan pohon yang lebat akan daunnya serta rumput hijau yang menjadi alas dudukku.
Aku memasuki taman kota itu, aku berlari menuju pohon besar yang ada disana, aku ingin bersandar di pohon itu.
“huuu…” ku hembuskan nafasku di bawah sandaran pohon sambil memejamkan mataku. Tapi aku merasakan sebuah sentuhan lembut jatuh di kepalaku, aku buka mataku, aku kaget melihat keberadaannya.
“Ayah” serentakku kaget.
“Iya Mayla, ini ayah..” sambil tersenyum dan duduk di sampingku.
“Aku tidak bermimpi kan yah?” tanyaku pada Ayah.
“Tidak nak, kamu tidak mimpi kok”
“Ayah kenapa pergi tinggalin aku dan ibu?”
“maafkan ayah, saat itu ayah harus pergi, karena Allah telah menjemput ayah untuk pergi ke atas”
“kok bisa ke atas yah, aku tidak mengerti dengan jawaban Ayah?” tanyaku bingung. Tapi ayah tidak menjawab pertanyaanku ini.
“Mayla..” panggil Ayah.
“Iya Ayah” sahutku.
“Kamu mau kan Mesantren? Ayah ingin melihat kamu mesantren, ayah ingin kamu menjadi orang yang berguna dan tahu ilmu Agama. Kamu mau kan?”
“Iya Ayah, aku mau Mesantren”
“Mayla, jangan kecewakan ibu yah, kamu harus nurut sama ibu, buatlah ibu selalu tersenyum”
“Iya Ayah, aku tidak akan mengecewakan ibu”
“Terima kasih Mayla, Ayah bangga sama kamu. Maaf ayah tidak bisa lama menemanimu disini, ayah harus pergi”
“Ayah jangan pergi..” sambil memeluk Ayah.
“Maafkan Ayah, untuk saat ini Ayah harus pergi” sambil melepaskan pelukanku dan memegang pundakku.
“Kalau Ayah memang harus pergi, aku ikhlas Ayah”. Ayah tersenyum dengan jawabanku. Sebenarnya aku ingin menangis dengan jawabanku sendiri.
Ayah berdiri dari posisi duduknya, dia mulai melangkahkan kakinya dan pergi meninggalkanku. Perlahan sosok dirinya tidak lagi terlihat oleh kelopak mataku. Aku menundukan kepalaku. Aku menangis akan kepergiannya. Seemoga Ayah tenang di alam sana. Amiiinnn…
The End
KEHENDAK TUHAN
Saya hanyalah seorang manusia biasa yang tidak sempurna dan penuh dengan kekurangan. April Tanggal 17 itu tanggal ulang tahunku, aku tak suka jika ulang tahun ku ini dirayakan atau dijadikan hari besar untuk diri ku. Dan tahun ini usia ku genap 15 tahun, aku masih tinggal bersama orangtua. Rumah yang ditinggali oleh keluarga ku cukup nyaman dan sederhana, dan menurutku itu tempat yang paling baik ke-2 dalam hidup ku, tapi kehidupan di sekolah adalah mimpi buruk bagi ku.
Kriiinggg!!!, Alarm berbunyi, aku segera beranjak dari tempat tidur ku dan segera menyiapkan barang barang untuk pergi sekolah. Mandi, makan dan akhirnya aku berangkat ke sekolah menuju tempat yang paling aku benci, tapi mau bagaimana lagi itu merupakan kewajiban ku. Gerbang sekolah selalu terbuka, tapi tidak untuk gerbang pertemanan. Di sekolah aku selalu diejek dan dikucilkan oleh teman-teman yang lain dan sering kali aku dijahili. Aku tak bisa berbuat banyak aku hanya pasrah. Di kelas aku bukanlah murid yang pintar, aku tak mempunyai sahabat dekat atau pun teman orang orang mengajak ku berbicara hanya untuk tanya jawab atau tugas saja selain itu tak pernah.
Indah sekali. Walaupun aku tak punya teman dan tidak merasakan hangatnya persahabatan, tapi untungnya aku masih bisa merasakan cinta. Ada seorang anak perempuan yang aku suka, dia berada di kelas sebelah, dia cantik dan pintar, tapi aku sebaliknya. Apakah mungkin? Sebenarnya aku sudah menyukainya sejak setahun kebelakang dan aku sudah menyukainya tapi aku tak pernah mengungkapkan rasa yang aku rasakan kepadanya. Mungkin dia satu-satunya penghibur ku di sekolah. Apes sekali hidup ku. Orang yang ku sukai kini sudah memiliki pacar dan aku iri terhadapnya. Sekarang sudah tak ada lagi hiburan di sekolah, rasanya aku ingin segera ke rumah dan menuju tempat terbaik ku yaitu “kamar ku sendiri”.
Aku mulai kecapean memikirkan orang yang aku sukai itu aku pun mulai berbaring di tempat tidur ku, inilah satu-satunya surga bagi ku. Mata ku sudah tak kuat lagi menahan rasa kantuk ini akhirnya aku tertidur. Ya, aku mulai tidur aku bisa merasakan aku mulai tidur, tapi mengapa aku bisa sadar aku mulai tertidur?! Tiba-tiba aku berada dalam dunia yang entah berantah. Suara ledakan tepat terdengar di sebelah telingaku, cahaya warna-warni yang tak jelas menghalangi pandanganku, tak ada jalan untuk diinjak dan… mengapa badan ku tak bisa ku gerakan?! Sulit sekali rasanya, tapi aku tetap rileks, rileks… sedikit demi sedikit tempat yang mengerikan ini menjadi tempat yang kosong dan gelap. Dan di tempat yang gelap ini aku mulai memikirkan orang yang paling ku benci dan di sana sedikit demi sedikit orang itu muncul, aku mulai memukulnya, dia melawan tapi aku di sini jauh lebih kuat, aku memikirkan senjata, dan senjata itu muncul di tangan ku, tanpa basa-basi lagi aku mulai membredelnya. Setelah itu semua, semua menjadi gelap kembali dan aku mulai tersadar dalam tidur, aku merasa puas karena bisa membalaskan dendam ku ini walau hanya dalam tidur.
Aku baru tersadar bahwa itu adalah mimpi dan anehnya aku bisa mengaturnya! Sesuka hati ku! “Hahahhahah” tertawa kepuasanku terlisankan. Mungkin hal yang sama ini bisa aku lakukan lagi malam besok, dan besok dan besoknya lagi dan terus sampai kepuasan ku terpuaskan. Mungkin nanti aku bisa memunculkan orang yang aku cintai, dan aku bisa bersamanya dalam dunia mimpi dengan kehendak yang bebas atau “Kehendak Tuhan”